10 Tahun Tsunami Aceh, Jusuf Kalla, dan Perintah Tembak Gembok Gudang Obat

0
33

26 Desember 2004, Jusuf Kalla selaku Wakil Presiden memimpin operasi tanggap darurat sekaligus rehabilitasi Aceh pasca tsunami. Korban jiwa akibat tsunami Aceh pada 2004 diperkirakan mencapai 160.000 jiwa. Kisah Kalla dalam mengatasi korban tsunami Aceh kembali diceritakan penulis Fenty Effendy dalam karyanya yang berjudul “Ombak Perdamaian” terbitan Penerbit Buku Kompas.

Saat itu, sore hari, Kalla menelepon Susilo Bambang Yudhoyono yang ketika itu menjabat presiden. Ia lalu menyampaikan akan berangkat ke Aceh untuk melihat langsung kondisi di sana. SBY pun mempersilakan Kalla untuk berangkat.

Malam harinya, Kalla langsung memimpin rapat darurat. Rapat hanya dihadiri enam menteri dan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. Ketika itu, sebagian besar menteri Kabinet Indonesia Bersatu tengah mendampingi Presiden berkunjung ke Nabire, sisanya, tengah dinas ke luar kota dan ada yang melakukan kunjungan luar negeri.

Dalam rapat itulah laporan Sofyan Djalil mengenai korban jiwa tsunami Aceh didengar Kalla.

“Pak, jumlah korban meninggal diperkirakan ribuan orang,” kata Sofyan lewat telpon satelit, seperti yang ditulis dalam buku Ombak Perdamaian.

Mendengar kabar itu, Kalla terus mengucapkan istighfar sambil mengusap wajahnya berkali-kali. Sejumlah menteri tampak tertunduk. Keheningan pun menyapu ruang rapat malam itu.

Kalla langsung memerintahkan para menteri untuk bekerja semaksimal mungkin sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing. Ketika itu, tulis Fenty, persediaan obat-obatan hanya sekitar delapan ton. Sementara, dengan jumlah korban jiwa yang mencapai ribuan orang, pemerintah membutuhkan stok 12 ton obat-obatan untuk disalurkan.

“Saya tidak mau tahu bagaimana caranya, malam ini kumpulkan semua obat yang ada di Jakarta untuk segera angkat ke sana dengan Hercules yang telah disiapkan Panglima TNI. Harus berangkat pukul lima pagi,” kata Kalla.

Seorang perwakilan Kementerian Kesehatan tak langsung mengiyakan perintah Kalla. “Tapi kan sudah tengah malam Pak, semua gudang dan tempat penyimpanan barang sudah terkunci dan pemegang kuncinya kami tidak tahu di mana,” kata perwakilan Kementerian Kesehatan itu.

“Plok!” suara meja ditepuk Kalla.
“Tak usah cari yang pegang kunci gembok, ambil pistol, tembak gembok itu. Tidak ada lagi aturan tentang tata cara membuka gudang sekarang ini, yang ada hanyalah kerja untuk selamatkan yang masih hidup,” kata Kalla.Ia geram dan tak habis pikir dengan jawaban perwakilan Kementerian Kesehatan tersebut. Pria yang akrab disapa JK ini lalu memerintahkan pihak Kementerian Kesehatan untuk mencari cara apa pun membuka gembok gudang obat-obatan.

Ia lalu memerintahkan perwakilan Kementerian Sosial untuk menyediakan uang tunai yang akan dibelikan makanan di Medan kemudian diangkut ke Aceh. Namun, permintaan Wapres ini lagi-lagi tak langsung disanggupi.

“Masalahnya Pak, kami tidak mudah mengeluarkan uang tunai karena ada proses dan mekanismenya,” kata seorang Dirjen Kementerian Sosial.

Kalla pun kembali geram, “Plok,” ia kembali menepuk meja di ruang rapat.

“Keluarkan uang tersebut malam ini dan bawa besok pagi-pagi ke Medan. Di sana Saudara beli mi dan langsung bawa ke Aceh. Saya adalah Wapres dan saudara adalah pegawai negeri. Saudara jalankan perintah ini, saya yang bertanggung jawab atas segala persoalan yang akan timbul kemudian hari. Saya yang masuk penjara, bukan Saudara. Kalau Saudara tetap menolak perintah ini, maka letakkan jabatan Saudara sekarang juga,” tukas Kalla.

Mendekati pukul 22.30 WIB, 26 Desember 10 tahun lalu, Kalla membubarkan rapat. Masing-masing menteri membawa pulang pekerjaaan rumah untuk dituntaskan keesokan hari, termasuk Menteri Keuangan Jusuf Anwar yang diminta menyiapkan uang tunai Rp 10 miliar. Subuh keesokan harinya, Kalla terbang ke Aceh dengan membawa obat-obatan dan uang.

RupaRupa Ombak Perdamaian (1)
Acara peluncuran buku berlangsung sederhana di pendopo Gubernur usai peringatan 10 Tahun Tsunami di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Berita selengkapnya: http://nasional.kompas.com/read/2014/12/26/09072391/10.Tahun.Tsunami.Aceh.Jusuf.Kalla.dan.Perintah.Tembak.Gembok.Gudang.Obat

SHARE
Previous articleKarni Ilyas
Next articleTulis Saja Semua Dulu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here