Anak Priok Meraih Mimpi

0
135

INILAH.COM, Jakarta – Ibunya adalah generasi kedua penjual nasi Padang di pelabuhan Tanjung Priok. Setelah tamat SMA, nasibnya juga bisa terpaku di situ.

Ke sekolah ia mengayuh sepeda, atau membonceng di sepeda motor temannya. Benar ia pernah menjabat ketua OSIS, pertanda teman-teman melihat potensinya sebagai panutan. Namun sejak masih berseragam putih abu-abu, Roni sudah bekerja sebagai sopir. Bahkan, menjadi sopir seolah takdir yang digariskan untuknya.

Inilah daftar pekerjaan Roni dalam tiga tahun setelah lulus: sopir sekaligus pesuruh, tukang cuci kuali di kapal pesiar, sopir untuk mengantar anak-anak ke sekolah, dan lagi-lagi, sopir. Kali ini merangkap tukang gotong selang kapal pengangkut bahan bakar di pelabuhan.

Kini, hari-hari berat itu telah berlalu. Sebagai ketua Ferrari Owners’ Club Indonesia (FOCI), anak Priok ini bebas memilih mobil untuk dipakai sendiri, bahkan mobil balap sekalipun.

Roni berhasil membuktikan bahwa sukses di usia 30-an bukanlah soal Anda keturunan siapa atau berapa banyak harta orang tua. Juga bukan karena belajar di sekolah yang mahal, atau terkenal. Kesuksesan adalah hasil kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas.

“Apa saja yang disuruh orang, saya kerjakan. Saya nggak pernah nolak dan enggak pernah pula bilang ‘nggak bisa’. Semuanya kelar. Bukan kesombongan. Bukan titik membanggakan diri. Tapi begitulah kisah nyatanya. Satu pesan saya, jauhi narkoba. Saya dulu merokok aja enggak berani, apalagi minum minuman keras, dan sampai sekarang tetap begitu,” kata Roni.

“Ahmad Sahroni. Anak Priok Meraih Mimpi” adalah buku ketiga yang ditulis oleh biografer Fenty Effendy dalam satu tahun terakhir. Dua buku sebelumnya adalah “Titik Balik BIMA ARYA” (Juni 2013) dan “Karni Ilyas Lahir Untuk Berita” (2012) yang merupakan buku biografi yang laris dibaca kalangan tua dan muda.

“Dari semua tokoh yang pernah saya tulis atau saya sunting kisah hidupnya, inilah kali pertama saya menulis tentang seseorang yang hanya dikenal oleh segelintir orang. Tapi saya tertantang karena zig zag kehidupan sosok ini luar biasa. Semua orang yang mengenalnya tidak menyangka dia bisa seperti sekarang,” ujar Fenty.

Seperti ketika biografi Barack Obama belum ditulis, ketika Ibnu Sutowo belum bercerita kepada Ramadhan K.H., dan ketika Karni Ilyas menyimpan sendiri kisah 40 tahun perjalanan hidupnya sebagai wartawan, tidak banyak yang tahu lika-liku perjalanan hidup mereka. Demikian halnya dengan Ahmad Sahroni.

Dalam pengantar buku Fenty menulis: Sukses Ahmad Sahroni menunjukkan bahwa semua orang pada dasarnya adalah orang kaya. Orang biasa, tanpa terkecuali, sebenarnya punya semua yang dimiliki Roni, yaitu: kerja keras, tidak gampang menyerah, sabar, dan jujur. Tapi kebanyakan kita lupa bahwa harta itu melekat pada diri kita. Selamat membaca kisah yang menginspirasi ini.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here