Berburu Duka Cita Martodihardjo (1)

0
32

Ini adalah sebagian dari isi Memo pertama yang dikirim David Maraniss pada akhir bulan Desember 2010:

I have interviewed Maya, Obama’s Indonesian sister, at length and have good material from her, but she is one step removed from the true story and I want as much factual detail as possible. The family lore is that Lolo Soetoro’s father and oldest brother were killed during the revolution against the Dutch and that the family house was burned and that they had to move to countryside. Perhaps that is true, but I want to find stronger proof and verification and details of what really happened. What role did the father play in the rebellion. What was his profession? How old was he when he died? How did he die. What was he like? Were he and the brother together or killed separately, if that happened?

Sebenarnya, dalam silsilah keluarga yang pegang Heru Budiono, salah seorang keponakan Lolo Soetoro, tertulis jelas bahwa Martodihardjo meninggal pada 27 Juli 1951. Heru, yang lahir seminggu setelah duka cita itu, mengatakan eyang kakungnya itu meninggal karena jatuh ketika memasang gorden. Akan halnya paman tertuanya bernama Soepoyo, di situ tertulis meninggal tahun 1955, tapi Heru tidak tahu penyebabnya. Melihat tahunnya saja, jelas cerita tersebut tidak nyambung dengan perang kemerdekaan atau perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang berlangsung sampai tahun 1949. Tapi penjelasan Heru itu tidak cukup untuk David.

Fenty,

In his memoir Dreams from My Father, Barack Obama writes this about Lolo and his family:
In Hawaii he (Lolo) had been so full of life, so eager with his plans. At night when they were alone, he would tell her (Obama’s mother, Ann) about growing up as a boy during the war, watching his father and eldest brother leave to join the revolutionary army, hearing the news both had been killed and everything lost, the Dutch army setting their house aflame, their fight in the countryside, his mother’s selling her gold jewelry a piece at a time in exchange for food. Things would be changing now that the Dutch had been driven out. He would return to university….
The real story is what we want, of course, best and thanks.

Pak David

Maka berangkatlah saya ke Yogyakarta pada awal Februari 2011. Kismardhani, puteri ketiga Prof. Dr. Imam Soetiknjo dan Suwarti, adalah orang yang saya tuju. Ibunya adalah anak keenam Martodihardjo dan eyang Marto menghembuskan nafas terakhir di rumah mereka di jalan Bulaksumur Street D7.

Noenik mengatakan dia sangat sibuk, ada koleganya yang baru meraih gelar doktor di kampus, dan tidak tahu kapan bisa diwawancara. Justru karena agendanya itu maka saya mengejarnya ke kampus Fakultas Kedokteran UGM. Saya menunggu sampai dia selesai makan, baru mendekatinya dan memperkenalkan diri, kemudian menanyakan apakah ada waktu untuk wawancara. Mungkin karena sudah bertatap muka, akhirnya Noenik bersedia. Wawancara kemudian dilakukan di rumahnya siang itu juga.

Saya sampaikan kepadanya, karena ibunya sudah meninggal dan dia adalah satu-satunya dari empat bersaudara yang menetap di Yogya, saya berharap dia menyimpan catatan meninggalnya sang kakek. Noenik menjawab, “Ya, harusnya semua dokumen itu ada, bersama surat-surat ibu saya lainnya, tapi saya tidak bisa menemukannya lagi. Barangkali tercecer waktu keluarga kami pindah dari Bulaksumur. Saya aja kehilangan sertifikat deposito.”

Saya kemudian menanyakan di mana makam eyang Marto. Noenik kemudian memberi ancar-ancar lokasinya. Dia sendiri tidak ingat persis. Pada saat seperti itu saya bersyukur pergi bersama Andi Palaguna, orang yang sangat paham Yogyakarta. Saya kenal dia waktu kami sama-sama bekerja di Metro TV. Andi pulang ke Yogya membuka usaha penyewaan mobil dan saya selalu memakai jasanya sampai hari ini.

Ok…cukup sudah mempromosikan Andi, saatnya kembali ke usaha menemukan makam Martodihardjo. Pekuburan pertama dengan cepat kami tinggalkan karena merupakan pemakaman keluarga ningrat. Pekuburan kedua lebih kecil dari yang pertama tapi penuh ilalang setinggi pinggang. Tidak jelas mana jalan, mana batu nisan. Sambil permisi berkali-kali, kami berdua menyibak semak dan tumbuhan yang menutupi pandangan. Beberapa warga ikut membantu mencari. Hasilnya nihil.

Saya masih ingat, Andi-lah yang bertanya apakah ada pekuburan lain. Ternyata ada, lokasinya beberapa ratus meter dari tempat kami berdiri. Pemakaman ketiga ini tertata rapi, tapi lebih luas dari dua pemakaman sebelumnya. Hari sudah rembang petang. Dengan sabar, saya dan Andi berpisah jalan untuk membaca tulisan di batu nisan yang jumlahnya ratusan. Pada waktu yang bersamaan, kami menemukan makam yang kami cari. Beralaskan batu marmer abu-abu, dengan pagar besi bercat hitam dan keemasan, dan dalam kondisi yang lebih baik dari makam-makam di sekelilingnya.

Tertulis di plakatnya yang terbuat dari besi: “Siwarno Martodihardjo” dengan tanggal meninggal 29 Juli 1951, tanpa tanggal kelahiran. Di sebelahnya adalah makam istrinya, Djoeminah, lahir tanggal 23 Maret 1898 dan berpulang pada 1 Maret 1983. Makam tersebut terletak di Semaki Kecil, Umbulhardjo, di tengah perumahan penduduk di mana anak-anak memanfaatkan lahan kosongnya untuk bermain layang-layang.

Buat saya, tulisan di batu nisan itu bukan saja menguatkan cerita Heru Budiono tapi juga bukti tak terbantahkan bahwa Martodihardjo tidak meninggal di masa revolusi kemerdekaan. Saya menjepret nisan tersebut dan mengirimkannya kepada David. Tapi dia masih meminta bukti lain. Bagaimana dengan pengumuman di koran? Bisakah dipastikan? Rupanya dia ingat saya pernah mengatakan akan mencari informasi tersebut melalui surat kabar lokal.

Pergilah saya ke kantor redaksi harian Kedaulatan Rakyat (KR) di jalan Malioboro. Mereka mengatakan koran-koran lama KR ada di perpustakaan yang letaknya terpisah dari redaksi. Saya pun bergerak ke sana. Jawaban petugasnya: “Wah, itu tahun-tahun yang lama sekali… Tidak ada di sini. Coba cari ke percetakan KR.”

Kami pun berpindah jalan Mangkubumi. Di lantai dua percetakan KR berjejer plat-plat koran tahun 1945-1949, tapi kemudian lompat ke tahun 1955. Tahun 1951 tidak ada platnya. Petugas di sana tidak bisa menjelaskan mengapa demikian.

Siapa tahu di Perpustakaan Yogya ada, kata Andi. Kami pun kembali ke jalan Malioboro. Setelah membongkar file sana-bongkar sini, satu-satunya edisi harian Kedaulatan Rakyat tahun 1951 yang ada di sana adalah tertanggal 7 Juli 1951. Harapan semakin menipis, tapi belum musnah. Andi bilang dia akan mengantarkan saya ke gedung arsip Yogya di jalan Kotabaru. Di gedung lama bergaya Belanda itulah harapan saya benar-benar terbang.

Lima hari sudah saya di Yogya. Saya sudah dapat semua data dan informasi yang dibutuhkan David: Rumah di Jayeng Prawiran tidak pernah terbakar – mungkin yang musnah itu adalah rumah yang ditempati Martodihardjo di Wirobrajan, tapi tidak ada yang tahu lokasinya. Djoeminah yang biasa disapa Eyang Putri oleh cucu-cucunya adalah sosok yang unik. Tidak pernah bersekolah tapi mahir berbahasa Belanda, Indonesia, Jawa, Aceh, dan Sunda. Bahkan saya bertemu mantan pacar Lolo Soetoro yang tinggal di jalan yang sama. Tapi saya gagal menemukan dokumen kematian Martodihardjo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here