Bikin Jembatan

0
44

 

Dalam tulisan “Tulis Saja Semua Dulu” saya menggarisbawahi soal pentingnya riset sebelum menulis. Nah, kali ini saya akan membahas tentang strategi membuat tulisan panjang. Seringkali karena punya banyak fakta yang menarik, penulis terdorong untuk menceritakan semuanya dalam satu alinea. Setelah itu, ketika harus menceritakan gagasan berikutnya muncul kebingungan. Mau mulai dari mana lagi? Seperti pelari jarak jauh yang kehabisan nafas karena salah strategi.

Tak semua informasi harus ditaruh sekalian di depan. Sisakan satu-dua kejutan di bagian belakang. Biarkan kata menari-nari mendeskripsikan situasi.

Ingat, ini tulisan, bukan foto atau video. Jadi andalah yang harus membuat narasi. 

Cermati tulisan berikut ini yang bergerak pelan dan di ujungnya menyodorkan ironi. Saya kutip dari buku John Wood, “Mengembangkan Ruang Baca. Kisah Inspiratif Mantan Pejabat Microsoft Melawan Buta Aksara di Berbagai Belahan Dunia” (Pustaka Alvabet 2014):

“Mendapat nutrisi dari matahari Sri Lanka yang nyaris tiada hentinya, barisan pepohonan palem itu membentuk batas belakang dari area bermain sempit yang menempel pada Sekolah Dasar Rathmalgahalea. Tanah kering dan datar, yang terbakar hingga berwarna coklat, menjadi lebih hidup saat para penjual keliling menghamparkan selimut di atasnya.

Saya menghampiri seorang perempuan penjual kelapa. Dengan senyum penuh syukur atas penjualan pertamanya pada hari itu, pedagang berambut gelap tersebut mengeluarkan sebilah parang. Bukan bermaksud menakut-nakuti saya melainkan untuk mengupas bagian atas kelapa yang saya beli. Begitu kulit luarnya yang agak keras telah dilempar ke tanah, dia menggunakan ujung parang untuk menyodok dengan lembut lubang di atasnya. Setelah memasukkan sedotan plastik hijau, dia menyodorkan minuman penghilang dahaga langsung dari pohonnya. Saat saya mengacungkan jempol atas minuman tersebut, dia tersenyum.

Hanya ada satu hal yang tidak lazim dalam transaksi kami. Penjual kelapa itu baru berusia 7 tahun. Anak laki-laki penjual pisang di sampingnya  tampaknya tidak lebih tua dari 9 tahun. Pada lapak berikutnya, gadis yang menjual satu kilogram beras tampaknya duduk di kelas satu atau kelas dua. Bahkan, dengan melihat sekeliling, saya memperhatikan bahwa pasar petani ini tampaknya dijalankan oleh anak-anak.”

Setelah menyodorkan informasi tentang pedagang anak-anak tersebut, John Wood dengan mulus melanjutkan narasinya tentang kesulitan anak-anak di wilayah Asia Selatan mengakses buku bacaan. Ia dan rekan-rekannya memulai program “hibah-tantangan”: membantu masyarakat setempat untuk membantu diri mereka sendiri. Pantaslah buku ini masuk nominasi World’s Children’s Prize.

Jadi, menyisakan satu fakta penting di ujung cerita adalah salah satu cara untuk melanjutkan tulisan yang berada dalam topik yang sama. Dalam dunia tulis-menulis, biasa disebut “jembatan” (bridging).

Sebuah jembatan selalu membuat larimu lebih cepat, bukan? 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here