Bukan Siapa-siapa

0
14

Ahmad Sahroni tidak terkenal. Sampul buku yang menampilkan wajah Roni – panggilan akrab Sahroni – tidak memberikan informasi mengapa kita perlu membaca biografinya. Sepintas, Ia memang terlalu muda untuk dibuatkan biografi. Umurnya baru 36. Ia juga bukan tokoh yang sering muncul di media. Apalagi sub judul yang ditampilkan di buku ini adalah “Anak Priok Meraih Mimpi”. Seolah buku ini berisi kata-kata motivasi hasil dari tumpukan penderitaan masa lalu. Namun, asumsi-asumsi itulah yang barangkali akan membuat kita tergerak membaca buku ini.

Cerita diawali dengan penjelasan tentang situasi politik di masa pemilu Orde Baru. Kemudian kita diajak untuk mengingat kembali penggusuran 100.000 kepala keluarga di Priok. Saat itu, Hernawati – Ibu Roni – tidak begitu menyadari bahwa perubahan situasi politik akan membuat kondisi ekonominya berubah drastis. Apalagi setelah Pemerintah Orde Baru menerbitkan Inpres No. 4 Tahun 1985 tentang Ketatalaksanaan Pengawasan Impor dan Ekspor. Keluarga Roni yang awalnya cukup berada, dengan dua rumah padang yang cukup laris, perlahan bangkrut.

Kedua orangtua Roni yang bercerai membuat Roni berada di bawah asuhan Ibunya. Kemudian Ibu Roni menikah lagi. Mereka sekeluarga tinggal di rumah sederhana di sebuah gang sempit. Kesibukan Ibu Roni berjualan nasi membuatnya diasuh oleh neneknya yang menanamkan sikap rajin dan pantang menyerah. Juga ada pamannya Budi Soleh. Di bawah asuhan pamannya inilah Roni mendapat pelajaran tentang pelajaran agama sebagai bekal hidup dan kedisiplinan waktu, terutama dalam hal ibadah. Roni kecil pernah tidak naik kelas dan mendapat nilai merah dalam pelajaran matematika. Ia bahkan sempat tidak kuat dengan didikan keras pamannya. Ia pun memutuskan untuk “memberontak” dan “mengungsi” ke rumah pamannya yang lain. Ferry Irianto.

Saat SMA, Roni yang prestasi akademiknya biasa-biasa saja menjadi ketua OSIS dan bahkan membuat sekolahnya memperoleh berbagai penghargaan dari pemerintah. Saat SMA inilah, Roni menumpang di rumah sahabatnya, Imam. Di sana ia dianggap sebagai anak sendiri. Kakak Imam lah yang menjadi bos pertamanya. Ia memulai karir pertamanya sebagai supir mobil pribadi, dengan bayaran 5.000 rupiah sehari. Walaupun kecil, Roni dengan senang hati melakukannya karena ia menjadi bisa menyetir.

Utak-atik otomotif membawanya ke pergaulan tingkat atas. Ia bergabung dengan Family Escudo Club (FEC) dan jadi satu-satunya anggota yang tidak punya mobil. Di klub mobil yang berisi anak-anak orang kaya itu, ia diandalkan sebagai “tukang” bongkar pasang mesin. Pergaulannya dengan FEC turut melecut semangatnya untuk dapat memperoleh kehidupan lebih baik. Keinginan-keinginan sebagai anak muda untuk memiliki mobil dan banyak uang seperti teman-temannya menjadi motivasi tersendiri.

Namun karena hanya berijazah SMA, Roni terpaksa menjadi sopir dan berganti majikan beberapa kali. Pernah ia bekerja membersihkan kuali di kapal pesiar yang berlayar hingga ke Atlanta, Amerika Serikat, tapi tekanan beratnya pekerjaan membuat ia kabur dari kapal.

Jatuh bangun, kenekatan, dan kegigihan Roni dalam mengubah nasibnya dari sopir menjadi pengusaha pemasok bahan bakar kapal diceritakan dengan menarik oleh Penulis. Intinya, tidak ada hal instan untuk sampai pada titik kesuksesan anak Priok tersebut.

Fenty Effendy memang mengajak kita untuk memandang sebuah keterbatasan dari sudut pandang optimisme. Namun, optimisme di sini bukan berarti lantas bertabur kata-kata motivasi. Nasehat sederhana seperti jangan melalaikan sholat, jangan tergerus pergaulan yang tidak baik, jangan pernah lupa kepada orang miskin, cukup menjadi bekal Roni untuk tetap menjadi anak baik-baik seperti harapan Ibunya. Bahkan sampai sekarang pun ia masih tidak merokok maupun minum alkohol. Kendati lingkungan sekitarnya menganggap hal seperti itu adalah sebuah kewajaran.

Kisah Roni tampaknya hendak mengajarkan kepada kita bahwa bergaul dengan kalangan atas tidak lantas membuat kita ikut arus. Kelas atas memang seringkali identik dengan hura-hura dan berbagai gaya dunia gemerlap sebagai simbol eksistensi dalam pergaulan. Ia juga mengajarkan pada kita bahwa kesuksesan itu tidak memandang dari keturunan siapa dan dengan kondisi keluarga seperti apa seseorang berasal. Kesuksesan dapat dibangun oleh siapa saja yang memang mau berusaha.

Di akhir halaman, kita akan dikejutkan tentang perjalanan hidup Roni yang membawanya menjadi seorang calon legislatif sebuah partai politik. Untung saja, penulis tidak menuliskan karir politik yang dijalani oleh ketua Ferrari Owner’s Club Indonesia ini secara vulgar. Tidak tampak bumbu pesan politik tertentu seperti yang biasa terjadi di biografi tokoh politik pada umumnya. Sehingga, kita tidak perlu menempatkan buku ini di rak yang berisi daftar biografi tokoh politik yang memuakkan.

Dengan font besar yang ramah untuk mata, buku setebal 128 halaman ini dapat tuntas dibaca oleh mereka yang bahkan tidak suka membaca buku. Font yang besar dan bahasa yang sederhana juga membuat buku ini dapat dibaca oleh semua kalangan. Termasuk anak-anak yang sedang belajar membaca buku. Diselipkannya foto-foto di dalam buku ini juga membuat pembaca dapat mendalami lebih jauh kehidupan Roni. Ada perubahan drastis wajah dan perawakannya, dari Roni kecil yang nampak hitam dan terkesan dekil, menjadi Roni dewasa yang tampil parlentedan bersih. Ditunjukkan pula lingkungan sangat sederhana dimana ia dibesarkan, sehingga pembaca dibawa untuk berimajinasi tentang perjuangannya membalikkan nasib.

Seperti niat awal penulis yang diungkapkan lewat kata pengantarnya, tujuannya membukukan kisah Roni adalah untuk membukukan sebuah harapan. Dari Roni kita belajar menumbuhkan harapan bahwa masih ada anak muda berintegritas di Republik ini yang dapat dijadikan teladan. Keberanian menulis tokoh yang ‘bukan siapa-siapa’ ini seperti menyiratkan pesan. Pesan itu adalah, “Orang terkenal, belum tentu jadi panutan. Orang tidak terkenal, bukan berarti tak punya peran”.***

*Syahar Banu. Mahasiswa Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Jakarta (dimuat di Media Indonesia Minggu, 17 November 2013)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here