Buku Setrum Warsito

0
216
Sampul Buku Setrum Warsito

IntipBuku

Anak Desa
Dengan Prestasi Mendunia

Overseas Fellowship Program Kemenristek (dikenal sebagai “OFP Habibie”) mengantarkan Warsito belajar di Fakultas Teknik Kimia Shizuoka University pada 1987. Selangkah lagi menjadi doktor, program “OFP Habibie” ditutup namun anak petani ini berhasil mendapatkan beasiswa dari Kementerian Pendidikan Jepang.

Warsito meraih gelar doktor berkat penelitian tentang gelombang ultrasonik sebagai sumber energi untuk melihat tembus ke dalam reaktor multi-fasa (berisi cairan, partikel padat, dan gelembung gas) tanpa harus melubanginya atau memasukkan alat apa pun. Dengan kata lain, ia sedang menggeluti tomografi, salah satu state of art teknologi instrumentasi yang menuntut penguasaan ilmu kimia, fisika, fisika instrumentasi, matematika, komputer, dll.

Cikal bakal tomografi adalah sinar X yang ditemukan pada 1895 yang memungkinkan dokter melihat struktur tulang manusia tanpa melakukan pembedahan. 70 tahun kemudian, lahirlah perangkat X-Ray Computed Tomography atau CT-Scan.

Dunia medis bukan satu-satunya yang mengenal tomografi. Ada tomografi seismik, sebuah metode merekonstruksi struktur bawah permukaan bumi dengan menggunakan gelombang seismik yang muncul ketika terjadi gempa. Ada pula tomografi gelombang akustik untuk pencitraan permukaan dasar laut. Terdapat bermacam-macam modalitas atau sumber energi dalam tomografi.

Akhir tahun 1980an, riset dan aplikasi tomografi pada dunia industri masih terbatas pada kampus-kampus tertentu di Eropa dan AS. Penelitian Warsito menghantarkannya menjadi pembicara kunci sebuah konferensi internasional di TU Delft pada 1999. Presentasinya menarik perhatian ketua konsorsium perusahaan riset perminyakan, Liang-Shih Fan.

Profesor Fan memboyong Warsito ke Ohio State University dan memintanya menemukan cara melihat tembus ke dalam reaktor dari kondisi kosong sampai betul-betul penuh cairan, partikel padat, dan gelembung gas.

Gelombang ultrasonik tidak bisa mengatasi persoalan itu, tapi medan listrik statis mungkin bisa. Hanya saja algoritmanya harus ketemu dulu. “Kasih saya waktu tiga tahun. Kalau tidak berhasil, berarti memang tidak ada orang yang bisa,” kata Warsito.

Dalam waktu 8 bulan ia berhasil menyusun algoritma cerdas NN-MOIRT untuk “membaca” fringing effects atau efek menyamping dari energi listrik yang sangat kaya data tapi selama ini tersia-sia karena tak ada yang bisa “membacanya”.

Inilah cikal bakal Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT), sebuah cara pemindaian berbasis medan listrik dalam ruang terbuka dan dengan posisi objek sembarang. Teknologi ini terpakai di NASA karena merupakan satu-satunya teknologi yang mampu melakukan pemindaian dari dalam dinding ke luar dinding pesawat ulang-alik.

ECVT menghantarkan profesor Fan masuk daftar “100 Ilmuwan Teknik Kimia Paling Berpengaruh di Abad 20”.

Warsito pulang ke Indonesia dengan hak mengembangkan teknologi ECVT di luar Amerika, yang berujung pada lahirnya teknologi penjinak kanker ECCT (Electro Capacitive Cancer Teraphy).

ECCT dipicu oleh rasa sayang sang doktor kepada kakaknya yang sakit dan harus menjalani kemo tapi tak punya cukup uang. Dulu, waktu ia balita dan kelaparan, Yu Warni begitu telaten menyuapinya dengan air tajin, pengganti susu yang tak sanggup dibeli orangtua mereka.

UlasBuku

Buku Setrum Warsito

RupaRupa

Buku Setrum Warsito

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here