Cerita dari Sang Pendiri Pertamina

0
17

Walaupun peluncuran biografi “Ibnu Sutowo: Saatnya Saya Bercerita!” yang dilakukan bulan lalu terasa terlambat karena kalaulah pemikiran dan sejarah yang tersingkap dalam biografi tersebut dapat tertangkap oleh publik yang lebih luas sebelum Pertamina direstrukturisasi melalui UU No. 22 tahun 2001, mungkin nasib Pertamina yang kini tak lagi memegang kuasa pertambangan dan monopoli industri migas ceritanya agak sedikit lain.

Apa yang menarik dari biografi ini? Biografi ini cerita tentang seorang anak bangsa yang lahir dan besar dalam lingkungan priyayi yang feodal namun punya harga diri yang tinggi sebagai anak bangsa yang di kemudian hari memberikan kontribusi yang cukup signifikan, unik dan luas dalam pengisian kemerdekaan. Ibnu Sutowo sedikit dari manusia Indonesia yang mampu membuktikan bahwa orang Indonesia juga bisa! Dan, Ramadhan K.H. menuliskannya dengan alur sederhana namun menarik.

Sedari kecil sudah bergaul dengan anak-anak Belanda melalui Europesche Lagere School (ELS) sampai dengan berhasilnya ia meraih gelar dokter dari Nederlands Indische Artsen School (NIAS) membuat Ibnu Sutowo tumbuh menjadi seorang yang percaya diri dan gaul mancanegara. Suatu peristiwa di masa kecil yang dialaminya ketika melihat kakaknya Sindhutomo yang berani mengusir kontrolir Belanda yang bertamu ke rumah mereka yang akhirnya berbuntut keputusan ayahnya untuk mengundurkan sebagai Wedana Grobogan, Jawa Tengah, telah mengubur inferioritas dari diri seorang Ibnu Sutowo. Dalam alurnya biografi ini banyak bercerita dimensi lain dari perjuangan Ibnu Sutowo melawan inferioritas dalam arti yang lebih luas. Ibnu Sutowo digambarkan sebagai karakter yang menjiwai arti tanggung-jawab, kesetaraan, dan kemandirian. Nilai yang sampai saat ini masih menjadi masalah dalam kehidupan bangsa ini dan biografi ini menawarkan sesuatu berharga terkait masalah inferioritas ini.

Setelah berhasil meraih gelar dokternya, Ibnu Sutowo ditempatkan di daerah transmigrasi Martapura, Sumatera Selatan. Anak priyayi yang biasa hidup enak menunjukkan keikhlasan mengabdi di daerah terpencil dan menjalankan tugas pengabdiannya dengan baik. Ibnu Sutowo memberi teladan tentang profesionalisme dan pengorbanan. Sebagai dokter muda yang cekatan dan pandai, pergaulannya meluas meliputi berbagai kalangan di Sumatera Selatan. Seiring dengan kemerdekaan dan revolusi, nasionalisme yang memang sudah tumbuh di hatinya sejak sekolah menengah di Yogyakarta mendorongnya untuk melibatkan diri lebih intens dalam perjuangan. Bermula di divisi kesehatan tentara terus melebar ke tugas komando strategis lainnya. Artinya, ia menjadi tentara bukan semata karena ia seorang dokter yang diperlukan membantu divisi kesehatan tentara, tapi lebih jauh dari itu karena sejatinya ia adalah pejuang yang menjiwai betul apa arti kemerdekaan. Perjuangannya sebagai tentara dalam mempertahankan kemerdekaan terlihat sangat berpengaruh pada pamahaman filosofis-ideologisnya dalam kiprahnya mengisi kemerdekaan melalui Pertamina.

Orang bilang Pertamina adalah Ibnu Sutowo. Ungkapan ini mungkin berlebihan tapi kalau melihat kiprah Ibnu Sutowo dalam membidani kelahiran dan membesarkan Pertamina kiranya ungkapan itu mempunyai merit juga. Pengabdian Ibnu Sutowo di dunia perminyakan (Pertamina) mengambil hampir separuh dari biografi ini, dimulai dari penugasan di Tambang Minyak Sumatera Utara di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara, pada tahun 1957 sampai dengan akhir karirnya di Pertamina pada 5 Maret 1976. Itu makanya, bagian terbesar biografi ini bercerita tentang Ibnu Sutowo dan Pertamina-nya.

Jejak utama Ibnu Sutowo di industri migas Indonesia bahkan di dunia adalah Production Sharing Contract (PSC)! Dari perenungannya yang mendalam, lahirlah konsep PSC sebagai derivasi brillian dari Pasal 33 UUD 1945 yang dikombinasikan dengan membentuk Pertamina sebagai pemegang kuasa pertambangan dan pemegang manajemen (kendali) pelaksanaan PSC. Saat ini hampir semua negara yang merdeka setelah PD II menggunakan model PSC karena kelahiran PSC sejalan dengan semangat nasionalisme dan anti imperialisme yang menguat setelah PD II berakhir. Namun sayangnya, Indonesia sebagai pencetus PSC belum optimal memanfaatkan model PSC yang dilahirkannya dibanding negara-negara lain yang mencontoh dari kita seperti Cina dan Malaysia.

Dengan segala pencapaian dan kegagalan yang dialaminya dalam mengelola Pertamina, Ibnu Sutowo telah menunjukkan kualitas sebagai entrepreneur nasionalis dan revolusioner yang brillian dan visioner. Ibnu Sutowo menjadikan Pertamina sebagai kendaraan untuk mengantarkan Indonesia mengisi kemerdekaan, mengejawantahkan amanat Pasal 33 UUD 1945 menuju kemandirian bangsa sebagai keputusan kontroversial dan berani yang pantas dihargai karena kentalnya aroma nasionalisme yang dikandungnya. Hanya, dalam perjalanannya beban itu mungkin terlalu berat untuk diemban oleh Pertamina sementara kompleksitas tuntutan pembangunan dan tekanan politik minyak internasional bukannya mengendor, sehingga akhirnya Pertamina terjerembab dalam suatu krisis di tahun 1974 terkait dengan gagalnya pencairan pinjaman jangka panjang sebesar 1,7 miliar dollar sementara Pertamina telah mengambil pinjaman jangka pendek sebagai bridging untuk mengembangkan Krakatau Steel dan Batam. Karenanya, terjadilah financial chaotic di Pertamina yang mau tidak mau APBN juga terganggu karena Pertamina tidak bisa menyerahkan sepenuhnya setoran ke Pemerintah sementara itu ketika itu penopang terbesar APBN adalah hasil ekspor minyak. Ibnu Sutowo dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab berakhir dengan diberhentikan. Oleh Ibnu Sutowo, kegagalan itu diklaim sebagai akibat dari suatu konspirasi untuk menghancurkan Pertamina dan dirinya.

Pepatah karena nila setitik rusak susu sebelanga kiranya cocok untuk menggambarkan apa yang dialami oleh Ibnu Sutowo karena krisis tersebut, masyarakat terkesan lebih mengingat kegagalan dari pada sukses-sukses yang telah dicetak oleh Ibnu Sutowo. Seperti judul biografinya, Ibnu Sutowo akhirnya menemukan saatnya berbicara menyingkap lebih jauh tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam krisis tersebut. Penyingkapan ini boleh dipandang sebagai pledoi, namun itu semua belumlah memberikan jawaban yang tuntas, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Namun terlepas dari itu, seandainya singkapan tersebut benar adanya, yang sangat disesalkan adalah betapa mahalnya harga yang harus dibayar oleh rakyat atas suatu persaingan politik yang disoriented, naif, dan irresponsible tersebut.

Sebenarnya ketika membaca biografi ini penulis berharap mendapatkan cerita yang lebih mendalam tentang tidak optimalnya pelaksanaan PSC oleh Pertamina dan tudingan korupsi serta komentarnya tentang Pertamina pasca kepemimpinannya terutama terkait degradasi Pertamina pasca krisis 1974, namun cerita yang tersaji masih jauh dari memberikan gambaran utuh. Hal lain yang juga diharapkan terungkap adalah kiat-kiat manajemen seorang Ibnu Sutowo, kiat manajemen nasionalis yang kiranya berharga untuk ditelaah sebagai suatu studi ilmiah, terutama bagi anak muda bangsa.

Akhirul kalam, sebagai sebuah buku, biografi ini sejatinya memperkaya dimensi sejarah bangsa dan Pertamina khususnya, apalagi di kondisi langkanya buku yang ditulis tentang Pertamina, biografi ini jelas mencerahkan. Ibnu Sutowo adalah pelaku sejarah serba bisa yang menyediakan dari dirinya teladan bagi yang anak muda bangsa tentang apa arti merdeka dan apa arti mandiri. Satu lagi karya Ramadhan K.H. yang layak baca! (Rudi Simamora, praktisi perminyakan. Bekerja di salah satu Production Sharing Contractor. Ditulis di Jakarta, 10 Januari 2009).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here