Cerita di Balik Perundingan Helsinki: Ketika Ombak Membawa Perdamaian

0
28

Buku tentang Aceh pascatsunami sudah sangat banyak, namun kehadiran “Ombak Perdamaian. Inisiatif dan Peran JK Mendamaikan Aceh” yang ditulis Fenty Effendy dipastikan melengkapi karya-karya sebelumnya. Penulis menempatkan detik-detik tsunami hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi sebagai bridging menuju perundingan perdamaian di Helsinki.

Atas mandat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla (JK) membentuk tim inti yang menjadi tim perunding RI dengan GAM. Layaknya pelatih sepakbola profesional, JK memilih pemain handal seperti Widodo AS, Hamid Awaludin, Sofyan Djalil, Farid Husain, Usman Basya dan I Gusti Agung Wesaka Puja untuk menghadapi laga big match di Helsinki. Pendekatan soft-power yang diterapkan oleh tim perunding RI mampu melunakkan pemimpin GAM yang awalnya meminta kemerdekaan.

Farid Husein menggunakan lobi-lobi non formal untuk melunakkan hati GAM. Farid rela mengurusi akomodasi pihak GAM seperti membelikan air minum dan kebutuhan makanan, bahkan melakukan apa yang disebut “diplomasi toilet” dengan menyusul ke kamar kecil ketika melihat delegasi GAM masuk ke sana.

Hamid Awaludin pintar menerjemahkan taktik dari JK. Dengan latar belakang hukum yang ia miliki, kecakapan saat perundingan kadang menjadi begitu mudah baginya. Farid dan Hamid memang sudah banyak makan asam garam untuk perundingan, konflik Poso dan Maluku jadi saksi bagaimana keduanya menyelesaikan pertikaian di dua wilayah timur Indonesia tersebut.

Meski berpengalaman, tak menjamin perundingan lancar. Di beberapa sesi perundingan, sama sekali tak ada titik temu. Marttti Ahtisaari, pemimpin Crisis Management Initiative (CMI) yang didaulat sebagai mediator pun sempat terbawa emosi.

“Jika Anda tetap tidak mau melupakan ide dan pembicaraan tentang kemerdekaan, lebih baik Anda meninggalkan tempat dan pertemuan ini. Tak ada alasan untuk berdiskusi dengan Anda semua. Anda hanya membuang-buang waktu saya. Namun sebelum Anda pergi, saya ingin mengingatkan bahwa mimpi Anda untuk merdeka tidak akan pernah kesampaian,” tutur Martti.

Ketegasan Martti membuat dialog bergerak ke depan. Kemajuan yang terjadi di Helsinki mendapatkan tekanan dari dalam negeri. Para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), pengamat politik dan pengamat hukum internasional menuntut agar Hamid dkk kembali ke Indonesia secepatnya karena perundingan Helsinki dianggap buang-buang waktu, membahayakan keutuhan Indonesia dan hanya menguntungkan GAM. Namun, Pemerintah tetap berprinsip untuk terus melanjutkan proses perundingan.

Memasuki putaran keempat perundingan di akhir Mei 2005, delegasi RI datang dengan optimisme tinggi. Namun kehadiran penasihat politik GAM, Damien Kingsbury, membuat buyar ekspektasi positif dari delegasi RI. Damien mengungkapkan praktik pemerintahan Indonesia adalah totalitarian atau sama saja dengan Nazi. Pernyataan kontroversial Damien membuat Hamid meradang.

“Amat menggelikan melihat sosok Profesor Kingsbury. Anda itu bukan pihak yang bernegoisasi. Anda hanyalah penasihat GAM. Sekali lagi, bukan pihak. Artinya, hasil pembicaraan hanya mengikat para pihak yang mencapai kesepakatan. Ini rumus universal. Semestinya saya tidak mengajari lagi Anda pelajaran dasar ini,” tegas Hamid.

Setelah melalui banyak putaran perundingan, akhirnya kesepakatan antara kedua pihak tercapai, di antaranya adalah amandemen Undang-Undang tentang otonomi khusus Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), membuat Pemerintahan Aceh yang baru, dan pembentukan partai lokal. Adalah Memorandum of Understanding between The Government of Indonesia and Free Aceh Movement (Nota Kesepahaman antara Indonesia dan GAM), sebuah naskah bersejarah yang ditandatangani oleh kedua delegasi di Smolna, The Government Banquet Hall, Etalaesplanadi 6, di pinggir kota Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Artikel Ombak PerdamaianDi akhir buku, dalam Epilog yang diberi judul “Jalan Kemanusiaan”, Fenty seperti membuat credit title dalam sebuah film, menceritakan kekinian para tokoh sembari menyelipkan pesan tentang pentingnya menjaga perdamaian di Aceh.

Penulis menempatkan figur utama yakni Jusuf Kalla secara proporsional, tidak terlalu mendominasi tapi ketika mencapai klimaks cerita, sang Wapres hadir sebagai problem solver elegan dan taktis. Dari sisi GAM, penulis tidak terjebak dalam tendensi menghakimi, bahkan menempatkan pemimpin tertinggi GAM, Hasan Tiro, sebagai sosok penuh wibawa dan sangat dihormati di Aceh.

Permainan waktu yang dilakukan penulis untuk menjelaskan kronologi bagaimana Aceh melalui banyak proses untuk menuju perdamaian menjadi salah satu kekhasan buku ini. Jalan panjang Aceh untuk menjadi merdeka seutuhnya dalam NKRI dituliskan dengan begitu mengalir, tanpa harus membuat sulit pembaca atau harus membuka file-file lama tentang Aceh.

Selengkapnya: http://www.kompasiana.com/rizkiwardhana/cerita-di-balik-perundingan-helsinki-ketika-ombak-membawa-perdamaian_54f903fda33311d33b8b4a7b

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here