Dua Kopral di Amsterdam

0
385

 

Dam Square, Oktober 2016. Andai waktu dijual bebas seperti kartu pos, saya pasti sudah mengantonginya dan menjatuhkannya selembar demi selembar saat berjalan.  Terlalu banyak kesenangan di pusat turis ini. Segala yang berbau kulit, dari tas, sepatu, jaket, hingga gelang, hmmm… sangat menggoda untuk dibungkus pulang. Setiap toko seperti etalase restoran Padang yang paham arti kata “lapar mata”. Semua kafe berlomba-lomba menawarkan suasana yang membuat saya ingin duduk tapi pada saat bersamaan ingin juga terus menjelajah.

Dengan jari-jari merapat mencari hangat dalam saku jaket, saya hanyut dalam arus guyub di gang-gang berbatu. Udara dingin dipenuhi percakapan dengan aksen menggelitik dari orang-orang yang mata, hidung, potongan rambut dan model pakaiannya baru pertama saya saksikan seumur-umur. Satu-dua wajah mengingatkan kepada tokoh jahat dalam kartun dan komik. Mungkinkah dulu para seniman membeli kartu pos waktu dan berlama-lama di sini?

“Mungkin juga,” kata Dewi Ardon sambil tertawa. Dia mengikuti imajinasi saya rupanya. Kami kemudian berhenti di depan sebuah patung yang banyak dihinggapi burung merpati.

Saya dan Dewi sama-sama pernah bekerja di Departemen Produksi RCTI tahun 1990an. Dewi mengurus kostum “Keluarga van Danoe”, saya production assistant atau biasa disebut “unit” untuk “Kuis Rahasia Keluarga” dan “Asia Bagus!”. Kami sudah 18 tahun tidak bertemu. Jadi obrolannya ya dibumbui suka duka bekerja dulu. Misalkan, tentang pandangan sebelah mata pada orang wardrobe seperti Dewi. Seakan-akan pekerjaan mencari baju dan menemukan aksesoris yang pas tak perlu ketrampilan. Semua orang bisa. Padahal harus punya taste, harus menyesuaikan warna, model, dan sebagainya.

Sekarang, di negeri tulip ini, ia menenteng kamera kemana-mana. Dam Square serta kanal-kanal di sekitarnya adalah lokasi yang familiar bagi ibu satu anak ini untuk bekerja.

Orang Belanda tergila-gila dengan pre wed?

Dewi menggelengkan kepala. Jasanya lebih banyak dipakai oleh orang Asia dan Amerika yang sedang berlibur atau memang berencana foto pre wed di Belanda.

“Tadinya aku membayangkan pesta pernikahan di sini grande, mewah… tapi kebanyakan malah kasual. Tak sedikit pengantin yang memakai celana jins. Dan mereka enggak mau bayar mahal. Kalau ada ponsel, buat apa pakai fotografer? Jadi, kalau ketemu klien orang Belanda, aku harus bekerja lebih keras lagi untuk memuaskan mereka.”

Amsterdam

Setelah menikah dengan Dennis Ardon dan menetap di Dordrecht sejak 2006, Dewi tadinya ingin bekerja di stasiun televisi juga. Tapi ia keburu hamil. Kemudian lahir Mikha dan Dewi dihadapkan pada pilihan: bekerja dan menitipkan anaknya di tempat pengasuhan selama 12 jam, atau mencari pekerjaan lain yang memungkinkannya punya banyak waktu bersama putranya. Sebab, tak seperti di Indonesia, menggaji pengasuh bayi di Belanda mahal. Dari situlah muncul ide menjadi fotografer karena dia memang suka memotret.

“Awalnya enggak mudah, bahkan aku nyaris menyerah, karena harus menjadi second shooter juga, editor juga… Tapi ya… sabar aja. Lama-kelamaan semuanya bisa aku kerjakan sendiri. Aku termasuk orang yang keras kepala, dalam artian belum mau mundur kalau belum ngerti atau belum bisa.”

Kini Dewi punya studio foto sendiri dan keinginannya menemani Mikha yang sedang tumbuh, menyiapkan sarapan, menemani main hockey, atau sekedar mengajaknya berjalan-jalan, kesampaian.

Dewi mengatakan, ia kreatif dan mandiri seperti sekarang ini karena  pergaulan yang positif dan berada di sekitar orang yang mendukungnya untuk maju. Ketika menyeberang dari urusan kostum menjadi “unit”, ia belajar bagaimana cara memproduksi sebuah acara televisi. Termasuk menulis skenario dari pakarnya, Inka R. Perwata (penulis buku “982 Episode. Perjalanan Kreatif Program Televisi).

Dari Jay Subiyakto yang sudah dikenalnya ketika di RCTI dan menjadi bosnya di Astro Awani, ia dapat banyak tips fotografi dan dorongan untuk lebih percaya diri. Jay mempercayainya sebagai produser program musik.

“Waktu melamar dan diminta menulis gaji yang diinginkan, mas Jay bilang, ‘kamu terlalu rendah menghargai dirimu! Coba ditambahkan lagi’.

Coba, mana ada atasan kayak gitu? Tapi dari situ aku jadi enggak pernah lagi merendahkan diri, tapi juga enggak mau tinggi hati. Banyak-banyak belajar aja…”

Bertukar Cerita

Ngomong-ngomong, dulu Dewi sekolahnya apa?

“Sastra Jerman di Universitas Padjajaran. Nggak nyambung, ya? Ha-ha-ha! Dulu itu aku prinsipnya kerja apa aja akan aku terima sebagai batu loncatan.”

Saya mengangguk-angguk, teringat pengalaman sendiri. Saya ingin menjadi reporter Seputar Indonesia, tapi karena belum ada lowongan saya pun menjadi “unit”. Kerjaan saya adalah menempel bon-bon ke kertas bekas dan menjumlahkan angka-angkanya. Kadang membuat surat yang sudah ada template-nya dan mengantarkan ke divisi lain. Apabila program kuis kami direkam di luar kota, saya berangkat duluan mencarikan tempat seleksi peserta, lokasi syuting, penginapan untuk sopir dan kru teknik, juga memesankan kue dan minuman saat syuting.

Saya menjalankan pekerjaan tersebut sekitar satu tahun dan saya tidak berkecil hati. Yang penting langsung bekerja dan dapat gaji. Kalau ikut tes ini-itu, prosesnya bisa berbulan-bulan sedangkan tabungan saya pas-pasan untuk bertahan hidup lama di Jakarta. Pernah saya melamar untuk menjadi penulis naskah iklan, waktu itu dunia periklanan lagi booming, dan saya dipanggil oleh salah seorang maestro di dunia pariwara. Tapi gajinya, buset, rendah sekali… Belakangan saya tahu dia memang pedit.

Kemudian terjadi krisis ekonomi. Lenyaplah banyak lowongan kerja, adanya PHK di mana-mana. Seingat saya, RCTI tetap kokoh meskipun ada beberapa program produksi yang dikurangi. Lalu terjadilah tragedi Mei 1998. Empat mahasiswa Trisakti ditembak mati. Penjarahan di mana-mana.

Selang beberapa bulan, majalah FORUM Keadilan buka lowongan. Saya ikut tes tahap demi tahap dan diterima. Prosesnya cepat sekali. Waktu mau tanda tangan kontrak, saya lihat gajinya lebih kecil tapi tetap saya ambil karena saya kepingin jadi wartawan dan FORUM saat itu dipimpin wartawan yang sangat saya kagumi: Karni Ilyas.

Saya sudah lupa dengan pekerjaan tempel-menempel bon dan mengantar surat itu sampai Dewi bilang “kerja apa aja aku terima buat batu loncatan”. Dalam hal ini saya harus menyebut nama Sarita Pamela Tutupary yang mau menerima saya, anak daerah dari Sumatera, bekerja bersamanya.

“Teman, kolega, lingkungan kerja yang mendukung, menyenangkan untuk dikenang ya? Kita membutuhkannya dan itulah yang membuat kita bisa berdiri di sini,” kata Dewi.

Saya mengangguk. Obrolan dengan fotografer profesional ini harus disudahi karena rombongan Mata Najwa Goes To Netherlands yang tadinya berpencar mencari oleh-oleh telah berkumpul dan kami akan kembali ke penginapan. Sebagai dua orang yang pernah berpangkat paling rendah dalam sebuah sistem produksi acara TV, kami seperti melambaikan tangan kepada masa lalu ketika bertemu di Dam Square.

SHARE
Previous articleBikin Jembatan
Next articleJurnalisme Si Kancil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here