Ibnu Sutowo, Sosok Dokter Serba Bisa

0
25

“Dalam mencermati kisah hidup Dr. Ibnu Sutowo, timbul pertanyaan, bagaimana mungkin seorang dokter dalam bidang kesehatan dapat bermetomorfosa menjadi seorang prajurit , pengusaha, manajer, direktur, dan menteri yang sukses ? Benarkah pola pikir , sikap, dan tindakan seorang dokter telah menjadi roh dalam tugasnya yang ruang lingkupnya jauh dari ilmu-ilmu kedokteran?”

Dalam gelaran Acara Bedah Buku “Ibnu Sutowo: Saatnya Saya Bercerita!” karya Ramadhan K.H., Guru Besar Obstetri Dan Ginekologi FK Unair Prof. M. Dikman Angsar, dr.,Sp.OG sebagai salah satu pembicara mencoba menerjemahkan pandangan beliau tentang seorang Ibnu Sutowo lewat kaca mata profesi Kedokteran.

Ibnu Sutowo merupakan Alumni NIAS (Netherlands Indische Artesen School), selepas pendidikan kedokteran di Surabaya pada tahun 1940 Ibnu Sutowo bekerja sebagai dokter di Palembang dan Martapura. Setelah masa kemerdekaan, ia sempat bertugas sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Tentara se-Sumatera Selatan (1946-1947). Hingga pada tahun 1955, Sutowo ditunjuk sebagai Panglima TT-II Sriwijaya.

Prof Dikman menyampaikan secara gamblang beberapa poin positif yang melekat dalam diri seorang Ibnu Sutowo sebagai seorang dokter yang layak diteladani. Pertama, bagi seorang dokter , kemampuan interpersonal menjadi salah satu kemampuan yang penting dalam menghadapi pasien dan masyarakat. Banyak keluhan ketidakpuasan pasien , umumnya terjadi akibat kemampuan hubungan interpersonal dokter yang tak mumpuni. Dapat diprediksi , orang yang punya kemampuan hubungan interpersonal yang baik akan sukses dalam kariernya.

Kedua, seorang dokter harus memilki good knowledge (pengetahuan kedokteran yang mumpuni). Dalam bukunya Ibnu Sutowo mengatakan ingin menekuni masalah kesehatan masyarakat, sebab baginya kesehatan masyarakat merupakan salah satu modal utama untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat.Pada saat itu beliau sudah sangat “community oriented“, satu metode pembelajaran yang sekarang diajarkan di FK di Indonesia.

Dalam menjalankan tugasnya, dokter akan banyak melakukan banyak tindakan yang memakai komponen motorik tubuhnya. Ini sering disebut dengan kemampuan keterampilan atau technical skill, ditinjau dari keterampilan motorik , kemampuan dokter bisa dibedakan apakah dia kompeten atau kapabel.

Prof Dikman menjelaskan, kompeten artinya seorang dokter dapat melakukan tindakan dengan hasil baik pada situasi dan sarana yang ideal, sedangkan kapabel adalah si dokter dapat melakukan tindakan dengan hasil baik pada situasi yang tak ideal (seadanya).

Dari hasil pengamatan, Ibnu Sutowo adalah seorang yang kapabel, terbukti saat beliau melakukan pembedahan gawat darurat pada Bambang Utoyo saat musibah di Lubuk Lingau.Tangan kanan Bambang Utoyo hancur akibat granat yang dipegangnya meledak.

Operasi amputasi pada tangan beliau berhasil dengan baik meski dengan sarana seadanya. Malah hasil operasi tangan beliau mendapat acungan jempol oleh dokter Jerman.

Dalam kutipan buku dijelaskan tiadanya sarana dan berangkat dari modal nol, Ibnu Sutowo mengatakan, “suatu latihan yang sangat bagus ialah bekerja dalam kondisi yang sangat memaksa kita, kita harus lakukan yang esensial, yang fundamental , sumber daya apa yang anda punya.”

Bagi Prof Dikman, sosok Ibnu Sutowo menunjukkan keteladanan bagi generasi dokter yang akan datang , karena keberhasilannya dalam mengelola berbagai usaha yang rumit berdasarkan atas – sadar atau tidak sadar – memakai pola pikir, pola sikap dan pola tindak seorang dokter, tidak harus berpikir linier, bila perlu berfikir zig-zag asal tetap berdiri di atas nilai- nilai fundamental seorang dokter. (Mo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here