Indonesia Seindah Ini

0
251

 

Ada empat pegunungan karst di Indonesia: dua di Sumatera, satu di Jawa, dan Sulawesi Selatan dengan Rammang-Rammang adalah yang terbesar, dan merupakan terbesar kedua di dunia. Saya berkunjung ke dusun perawan ini pada satu Senin pagi. Sengaja memilih bukan akhir pekan supaya lebih nyaman dan ternyata pilihan yang tepat. Jalan menuju ke sana kecil, lahan parkir pun terbatas. Karena mobil kami satu-satunya yang berkunjung, bisalah parkir persis di sebelah warung yang tersambung ke dermaga kayu sederhana.

Sudah ada perahu-perahu yang siap mengantar kita menengok lebih dekat bentang alam langka ini. Saya pilih perahu terkecil bermuatan empat orang, sewanya 200 ribu. Sopir yang membawa saya, Ardi, baru pertama kali ke sini. Orangnya pendiam. Dia sudah bersiap duduk di warung.

“Ayo ikut. Punya kampung sebagus ini kok tidak dilihat? Rugi kamu. Nanti kalau ada tamu, kamu bisa ajak mereka ke tempat ini,” kata saya.

Ardi masih enggan. Setelah saya katakan ‘nanti nggak ada yang motretin saya’, barulah dia mau 🙂

Perahu pelan-pelan meninggalkan dermaga, meliuk-liuk di antara hutan nipah dan bakau yang berkilau ditimpa matahari pagi. Indah sekali. Kami melewati beberapa jembatan bambu dan satu-dua rumah panggung dengan sampan parkir di kolongnya. Pegunungan karst hilang-timbul terhalang pelepah nipah.

Sekitar 15 menit kemudian, sampailah kami di dermaga Berua. Suasana begitu tenang, begitu hening. Pegunungan batu yang menjulang dan mengepung kampung, seolah bersidekap mengawasi: ‘hayo, jangan ribut. Nikmati saja kami’.

Harmoni sepi. Hanya genta sapi dan burung gagak yang berteriak-teriak.

Memang tak perlu banyak bicara di Rammang-Rammang. Inilah saatnya mendengar alam, mendengarkan diri sendiri. Memberi ruang bersenang-senang pada panca indera. Udara segar. Kolam-kolam air, jernih sampai ke dasar. Seekor ikan melenting satu detik ke udara sebelum menceburkan diri kembali.

“Ardi, saya pernah menelusuri sungai Mekkong, naik perahu kecil yang meliuk-liuk di hutan nipah, mampir ke tempat pembuatan gula-gula tradisional, melihat atraksi ular dan lebah, tapi soal alam, Rammang-Rammang ini jauh lebih keren!”

Saya melihat raut bangga di wajah Ardi. “Iya Kak, kampung ini indah sekali,” katanya dengan logat Makassar yang khas.

“Saya punya teman lama, tadinya sopir mobil sewaan. Karena pengetahuannya luas tentang tempat-tempat wisata dan penginapan di seputar Jogja dan Jawa Tengah, dia disenangi tamu-tamunya. Sekarang dia punya usaha travel kecil-kecilan, tamunya bule-bule Eropa, tapi dia tetap membawa mobil sendiri. Saya kalau mau jalan sama dia, harus nanya jadwalnya dulu.”

Ardi mengangguk-angguk. Sepertinya omongan saya membuatnya bersemangat karena kemudian dia menawarkan untuk melihat air terjun Bantimurung dan penangkaran kupu-kupu. Selama 1,5 jam perjalanan Makassar~Rammang-Rammang dan hampir dua jam di Berua plus melongok Hutan Batu Kampung Laku, untuk pertama kalinya dia bicara tanpa ditanya.

Dekat dari sini?

“Dekat, Kak. Cuma setengah jam.”

Oww…baiklah. Mari kita berangkat!!

Keramahan pedesaan. Bu Musani, 80an tahun, lahir di kampung Berua. Rumahnya hanya beberapa puluh meter lagi. “Ibu mau ke pasar. Lama di sini? Mampir nanti.”
Sisi lain dari bentang Karst di Rammang-Rammang: Taman Batu Hutan Laku.
Satu-satunya penginapan di Rammang-Rammang. Bersih. Sore di kawasan ini bisa dipakai untuk melihat kalelawar pulang ke gua. Bermalam bisa menjadi pilihan. Bangun pagi, meneguk kopi, lalu naik perahu menyapa matahari.

Tips:

  1. Kalau ingin mampir di bentangan karst Rammang-Rammang sekaligus musim kupu-kupu di Bantimurung, September sampai penghujung tahun adalah waktu yang tepat.
  2. Datanglah di pagi hari ketika matahari masih rendah. Selain bagus untuk berfoto, udara masih sejuk. Di atas jam 9, cuaca mulai menggigit kulit.
  3. Lebih baik mengenakan baju lengan panjang dan topi. Lebih praktis dibandingkan membawa payung.
  4. Mintalah pemandu untuk mengingatkan tentang terowongan karst yang sangat indah sebelum merapat di dermaga Berua supaya anda bisa bersiap-siap menikmati dan mengabadikannya.

Terakhir, ini lebih tepat disebut permohonan, tolong bawa pulang botol bekas minuman dan makanan anda. Rawanya begitu bening, sayang sekali bila dikotori.  Kita dapat melihat ikan lewat dan bibit bakau bergoyang-goyang di bawah bayangan perahu. 

Alam tak pernah meminta lebih. Hanya ingin dijaga agar lestari sehingga bisa dinikmati oleh generasi yang akan datang.
SHARE
Previous articleRumah Nomor 2
Next articleTunduk pada Cahaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here