Inyiak Koran Sumbar

0
401

 

Dalam khasanah budaya Minangkabau, Inyiak adalah sapaan hormat untuk orang yang tua dan orang yang dituakan. Begitulah Nasrul Siddik, anggota Dewan Pers dua periode dan pendiri surat kabar Singgalang, diposisikan oleh sebagian besar koleganya yang berbagi cerita untuk buku “Nasrul Siddik Wartawan Berintegritas” (2016). Seorang otodidak dalam menulis tapi mampu menerjemahkan jurnalisme sebagai pembawa suara publik. Juga, tokoh di balik keberadaan perumahan untuk para wartawan, Wisma Warta, di seberang kampus Universitas Bung Hatta, Padang.

Kredonya tentang warta, sederhana. Berita umpama matahari yang mencerahkan, bukan kabar yang menggelapkan. Mewartakan tak sekedar menerapkan rumus “5 W + 1 H”. Ada hal-hal di luar kaidah-kaidah jurnalistik yang perlu menjadi pertimbangan.

“Berita seperti ini tolong jangan dimuat lagi,” katanya suatu hari kepada awak redaksi. Wajahnya terlihat gusar. Berita itu berjudul “Oknum Ustadz Cabuli Anak Ketek” (ketek = kecil).

“Mengapa harus ustaznya itu benar yang diangkat sebagai kepala berita? Mengapa tidak inisial oknumnya saja? Tidak ustaz, tidak seorang haji, tidak seorang guru, kita manusia bisa saja bersifat khilaf dan keliru. Membesar-besarkan nama ustaz ataupun oknum pak haji, itu sama artinya kita memojokkan agama sendiri. Cobalah awak periksa dan amati, adakah terdengar oleh kita kabar berita yang sampai menyebutkan seorang pendeta masuk koran gara-gara hal yang sifatnya amoral?

Bukan tak mungkin peristiwa itu ada, tapi tak pernah peristiwa itu mereka ungkapkan. Awak, mengapa sampai hati mengungkapkan berita seperti ini? Bahkan kehilangan sandal di masjid pun ramai-ramai awak jadikan berita. Kini, hindari sajalah berita-berita berbau memperburuk atau merusak citra agama kita, Islam.”

Sebagai orang yang dituakan, Inyiak Nasrul adalah tempat bertanya. Bila anak buahnya merasa tidak nyaman atau sungkan karena yang ditulis menyangkut anak si anu, kawan si anu, bahkan si anu itu sendiri yang merupakan tokoh terpandang dan berpengaruh, mereka menghadap Inyiak Nasrul untuk meminta pertimbangan.

Dengan tutur kata yang lunak, biasanya dia akan bertanya: “Ada fakta? Apakah sudah dikonfirmasi? Tidak mengarang-ngarang, kan?”

Kalau yang ditanya menjawab “sudah”, seketika dia menegas: “Maju terus!.”

“Lunak-lunak kareh,” kata seorang anak buahnya. “Lunaknya seakan bisa disudu, tapi kalau kareh-nya tidak akan bisa ditakik siapa pun. Kalau dia katakan ‘maju’, itu harus maju. Jangan bertungku pada ragu.”

Makanya ia juga berjulukan Inyiak Lunak.

Nasrul Siddik lahir 7 Maret 1936 sebagai anak Haji Muhammad Siddik, satu dari tiga ulama paling berpengaruh di Bukittinggi. Dua lainnya adalah Syekh M. Djamil Djambek dan Buya H. Samah. Ayahnya aktif berdakwah secara lisan dan banyak menulis di media dakwah Islam pada tahun 1920-an hingga Buletin Kurai yang aktif terbit antara 1940-1945.

Nasrul remaja aktif mengisi acara rutin kesusastraan di RRI Bukittinggi bersama A.A. Navis dan Motinggo Busye. Kesulitan hidup membuatnya menjadi wartawan harian Respublika saat masih mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas pada 1961. Kendati pada akhirnya ia putus kuliah setelah meraih gelar sarjana muda.

Agaknya latar belakang ayahnya yang ulama ikut menentukan bagaimana Inyiak Nasrul bertekun di dunia kewartawanan yang berdampak besar pada masyarakat. Saat koleganya takut dan meragu, ia berterang-terang anti PKI. Ia bahkan melindungi seorang penyair pemula dari target tokoh PKI setempat yang tak senang dengan karyanya. Inyiak melarikannya ke terminal bis dengan sepeda, membelikan tiket plus uang bekal di jalan.

Foto koleksi keluarga, tanpa keterangan tempat dan tahun. Sepertinya Nasrul Siddik (berbaju putih dan berkacamata) sedang mewawancarai Ali Moertopo.

Setelah Respublika bangkrut menjelang kejatuhan Sukarno, Nasrul Siddik pindah ke surat kabar Aman Makmur, selanjutnya mengelola koran Sinar Masa dan Mercu Suar, kemudian mendirikan koran Singgalang, bersama dua rekannya, Nazif Basir dan Salius Sutan Sati.

Suatu ketika Nazif, yang biasa menulis cerita silat bersambung Panglimo Alang Bangkeh, berangkat  ke Jakarta tapi lupa menulis kelanjutan cerita. Sebagai pemimpin redaksi, Inyiak Nasrul turun tangan melanjutkan. Si Alang Bangkeh, parewa besar yang suka makan masak mentah dan sama sekali tidak pernah tersentuh ajaran agama, tiba-tiba saja sudah melakukan shalat subuh di atas sebuah batu besar di pinggir sungai!

“Dasar Nasrul Siddik itu memang Buya, sampai-sampai kepada cerita bersambung saya, walau hanya menulis satu nomor, ia tetap mengambil kesempatan untuk berdakwah,” kenang Nazif Basir, yang beristrikan penyanyi Elly Kasim.

Panglimo Alang Bangkeh ditamatkan dengan “memberangkatkannya” naik haji, lalu diganti dengan Palimo Agam karya Makmur Hendrik.

“Saya pikir cerita itu hanya bertahan sebulan, nyatanya sampai tiga tahun! Nasrul Siddik punya penilaian lain, dia begitu yakin memuat cerita yang ditulis seorang mahasiswa yang saat itu membuat berita saja belum lurus benar,” kata Makmur Hendrik.

Pemuatan cerita silat tersebut memotivasi Makmur untuk menulis. Novelnya, Melintas Badai, diangkat ke layar lebar, disusul tiga fiksi lainnya: Buah Hati Mama, Luka di Atas Luka, dan Yang Kukuh Yang Runtuh.

Tahun 1979, atas desakan para pembaca, Singgalang menjadi surat kabar harian. Oplahnya pernah mencapai 27 ribu eksemplar, tertinggi di Sumatera Barat sampai sekarang. Inilah satu-satunya koran daerah yang beredar luas di Riau, Jambi, Palembang, Medan, hingga Jakarta, pada tahun 1980-an. Rumah makan Padang yang tersebar di berbagai pelosok nusantara menjadi basis penyebarannya. Dalam banyak kasus, Singgalang berhasil memompa semangat dan memanggil banyak perantau untuk pulang, mengabdi dan membangun kampung halaman.

Selanjutnya pada 1986, Nasrul Siddik membangun Mingguan Canang bersama Salius Sutan Sati. Juga berbahasa Minang, dengan moto yang mengundang senyum: “Dibali Ciek, Kanyang Sapakan”. Artinya, Dibeli Satu, Kenyang Sepekan. Gaya menulisnya menukik, tanpa banyak bumbu. Tulisannya santai, kenyal, dan menghanyutkan. Ini koran pedas yang sering membuat merah telinga pejabat daerah kala itu.

Tentang keberadaan surat kabar berbahasa Minang, dosen dan peneliti pada Department of Languages and Cultures of Southeast Asia and Oceania, Leiden University, Suryadi, memberikan konteks zaman:

Lusinan koran pernah terbit di Padang, namun tak ada koran yang seluruh rubriknya berbahasa Minang. Bahkan media-media kaum adat seperti Oetoesan Alam Minangkabau (terbit pertama tahun 1939) juga tidak memakai bahasa Minangkabau. Di daerah lain, seperti Sunda dan Jawa, penulis lokal, kadang-kadang penulis nasional dari etnis yang bersangkutan, dapat mengekspresikan ide dan pikirannya dalam bahasa ibu sendiri.

Melewati era Reformasi, Canang yang berusia bujang, 17 tahun, akhirnya tumbang (1986-2003). Ada kesulitan keuangan, dan tak ada awak redaksi yang sanggup meneruskan. Inyiak Nasrul tetap menulis walau umur sudah menginjak 70. Ia berpulang pada 31 Mei 2014 dalam usia 78 tahun.

Penyair Leon Agusta yang dilarikannya dengan sepeda ke terminal bis dulu, menyebut Inyiak Nasrul bersahaja dan santun, humanis-relijius. Ia menambahkan, “Kita mengenangnya dengan perasaan kehilangan yang mendalam, dari sifat-sifat dan bakat kebaikan yang dimilikinya, yang pada masa kini sudah sangat sulit menemukan padanannya.” (Leon berpulang dalam proses penerbitan buku ini).

Zuiyen Rais, pernah bekerja sebagai pewarta kemudian menjadi walikota Padang, menulis: “Nasrul Siddik mengajari wartawan dengan istilah ‘mambaok parang jo barani’, modalnya parang dan keberanian saja. Langsung bekerja, tidak banyak teori.”

“Yang paling saya kagumi pada tulisan Inyik Nasrul Siddik adalah ketika aroma bahasa yang beliau tuliskan bukanlah dalam bahasa teoritis yang terkadang gelap solusi, tapi adalah bahasa hati yang terang. Seberat apapun persoalan yang terjadi, ketika membaca tulisan Inyiak Nasrul, persoalan itu menjadi terurai dan sederhana,” tulis Wakil Gubernur Sumbar, Muslim Kasim.

Demikianlah, penulis-seniman-sastrawan-wartawan-politikus kelahiran Birugo, Bukittinggi, ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi sejawatnya. Sebuah buku yang dicetak terbatas menjembatani kenangan pada julukan yang disampirkan kepadanya: Nasrul Siddik, Inyiak koran Sumatera Barat.

* Sari Pengantar untuk buku “Nasrul Siddik Wartawan Berintegritas” (2016). Editor Abrar Yusra dan kawan-kawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here