Jurnalisme Si Kancil

0
148

 

Ini kisah nyata di bulan Desember 2004, beberapa hari setelah tsunami meluluhlantakkan Aceh. “Ellen” yang disebut dalam cerita berikut adalah Ellen Nakashima, wartawati koran dengan reputasi melegenda, The Washington Post. “Saya”, si penutur, ialah Yayu Yuniar, alumnus Jurusan Ilmu Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran (Unpad).

Perbedaan waktu antara Indonesia dan Washington D.C. membuat keduanya harus bekerja 18-20 jam sehari. Melakukan koordinasi, merencanakan liputan, dan mengecek perolehan materi tulisan. Belum lagi tekanan kompetisi dari sesama pemburu berita, baik lokal maupun mancanegara.

Yayu menggambarkan jam-jam yang mereka lalui lewat kalimat: “Kami bekerja sambil mempertahankan akal sehat, menebalkan saraf menyaksikan penderitaan para korban, dan gelimpangan mayat di sana-sini”.

Dalam situasi dan kondisi seperti itulah kisah ini bermula:

Tugas peliputan selesai. Saya mulai terlelap di atas lantai dingin rumah sewaan kami. Tak ada ranjang, kami bergeletakan begitu saja. Ellen masih berkutat menulis dan mengedit. Perlahan dia mengguncang bahu saya. Dengan nada minta maaf, dia berbisik, “Siapa nama orang gila yang membuntuti kita?”

“Shahrukh Khan,” jawab saya, mengantuk.

“Are you sure?” ujarnya.

“Tentu tidak. Itu nama karangan dia. Tidak ada orang Aceh bernama Shahrukh Khan.”

‘Ya, tapi kita tidak tahu itu dengan pasti.”

“Mana ada orang gila bicara benar?!” Saya mulai naik darah. Perdebatan konyol tentang Shahrukh Khan di jam dua pagi.

“Siapa nama aslinya?” kata Ellen, keras kepala.

“Mana saya tahu! Catatan pasien sudah hanyut tersapu lumpur.” Suara saya meninggi karena lelah dan tak sabar.

“Mungkin kita bisa bertanya kepada dokter Kris?”

“Ya ampun, Ellen, gila! Ini jam dua pagi!”

“Baik, baik. Kita panggil dia Shahrukh Khan.”

“Ya, baiknya begitu!” ujar saya dengan keras sambil membalikkan badan, kembali tidur.

Tiba-tiba bahu saya digoyang pelan. Ellen berbisik, “Yayu, berapa jumlah huruf “k” dan “h’ dalam nama itu?”

Saat matahari mulai naik, dengan tidur hanya tiga jam, saya menembus dingin untuk kembali ke rumah gila dengan puluhan pria tanpa jeruji demi sepotong nama. Saya berhasil mendapatkan nama asli Bung Shahrukh Khan itu.

Tapi sekarang saya lupa namanya. Saya hanya ingat dengan jelas bahwa, saat wawancara, saya dikelilingi pria dewasa telanjang. 

Saya mengutip kisah Yayu Yuniar ini dari “Jurnalis, Jurnalisme, dan Saya” terbitan Keluarga Alumni Jurnalistik Unpad (terbit Oktober 2013, dicetak untuk kalangan terbatas). Yayu juga menceritakan pengalaman menegangkan ketika meliput pembalakan liar di rimba Papua bersama Ellen dan nyaris dikeroyok massa. Namun saya memilih insiden kecil ketika keduanya menulis feature tentang rumah sakit jiwa yang hancur akibat tsunami karena ada pembelajaran tentang jurnalistik di sana.

Pertama, soal keyakinan bahwa ide cerita yang bisa diperoleh dari mana saja dan yang akan membuatnya menarik adalah bagaimana mengeksekusinya. Gagasan menulis tentang orang-orang gila korban tsunami muncul dari sebuah berita di koran lokal: “Rumah Sakit Jiwa dan Penjara Tersapu Tsunami. Tahanan dan Pasien Berlarian”. Berita tersebut mengingatkan Yayu pada film pemenang Oscar 1975, One Flew Over the Cuckoo’s Nest, yang dibintangi Jack Nicholson. Karakter tokoh yang tidak biasa selalu mencuri perhatian. Seorang dokter jiwa dan seorang lelaki hilang ingatan. Ada humor tragis di situ.

“Carilah satu karakter untuk menggambarkan keseluruhan berita, begitulah formula yang selalu diwanti-wanti Ellen dan Allan Sipres kepada saya,” kata Yayu. Allan waktu itu berbagi tanggungjawab dengan Ellen sebagai kepala biro The Washington Post untuk Asia Tenggara.

Maka melangkahlah wartawati bertubuh mungil ini ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh. Saat itu hujan deras, puluhan orang gila bersuka ria bermain air dan bermandi lumpur. Yayu menghasilkan reportase yang basah, sebasah kulit telanjang para lelaki hilang ingatan yang dilihatnya.

Pada titik ini, apalah artinya nama mereka yang diwawancarainya? Toh, kalaupun ditanya, belum tentu dia ingat siapa dirinya. Lagipula, orang gila itu hanya sebuah karakter dalam reportase tentang rumah sakit jiwa yang terkena dampak tsunami. Demikian pikiran Yayu waktu itu sehingga ia pun pulang. Namun bagi Ellen, gila atau bukan, yang pasti setiap orang punya nama. Menuliskan nama orang dengan tepat adalah bagian dari akurasi. Maka Yayu pun kembali ke RSJ pagi-pagi sekali.

Inilah pembelajaran kedua dari “Jurnalisme Si Kancil” yang ditulis Yayu. Tentang inti dari pekerjaan jurnalis yang kini banyak dilupakan: melakukan verifikasi sebelum menulis sebuah berita.

Andai semua yang menyebut dirinya wartawan (dan editor) menjalankan disiplin verifikasi yang ketat, kekacauan informasi pada hari-hari ini yang membuat kita kehilangan selera membaca berita (sampai-sampai ada kepala daerah tidak mau lagi baca koran), akan hilang separuhnya.

SHARE
Previous articleDua Kopral di Amsterdam
Next articleKarni Ilyas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here