Jusuf Kalla dan Ombak Perdamaian di Aceh

0
50

Ombak Perdamaian

Bu Uni, ini Yadi. Bapak mengajak Bu Uni ke Aceh, siang ini.“

Pagi kemarin (25/12/2014), Yadi Jentak, asisten pribadi Wakil Presiden Jusuf Kalla menelpon Saya. Wapres memang dijadwalkan memimpin upacara peringatan 10 tahun tsunami di Banda Aceh. Tawaran mendadak. Menarik. Saya merasa terharu Pak JK ingat mengajak Saya.

Sayangnya, Saya dalam perjalanan menuju ke bandara untuk ke Semarang. Hari ini Saya sudah berjanji mengisi pelatihan jurnalistik untuk Sekolah Jurnalistik Indonesia yang didirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Kegiatan ini sudah berjalan sekitar lima tahun, di belasan propinsi. Tidak mudah menyesuaikan waktu mengajar dari belasan pelatih. Pembatalan mendadak enggak profesional.

Malam, tanggal 26 Desember 2004, saya duduk berseberangan dengan Wapres JK. Kami di tengah acara makan malam editors club. Selama 12 tahun sejak 1999, saya menjadi titik kontak bagi teman-teman pemimpin redaksi dan wartawan senior yang bergabung dalam sebuah organisasi tanpa bentuk yang disebut editors club. Kami sering berdiskusi soal banyak topik aktual, dengan narasumber terkait. Pak JK salah satu narasumber tetap. Sebelum meluncurkan sebuah kebijakan, biasanya dia akan menelpon saya minta bantuan mengontak teman-teman editors club untuk diskusi informal.

Saya lupa apa tema khusus malam itu, tapi itu adalah pertemuan pertama dengan Pak JK sebagai wakil presidennya Susilo Bambang Yudhoyono.

Makan malam itu berlangsung di Klub Bimasena, Hotel Dharmawangsa, di kawasan Jakarta Selatan. Pak JK datang agak telat. Meja diatur memanjang.Jadi, jarak antara saya dan Pak JK cuma sekitar 1,2 meter.

Dia menerima telpon, lalu mengucap, “astagfirulah, astagfirulah.” Itu telpon dari Pak Sofyan Djalil, Menteri Komunikasi dan Informasi. JK mengirim Sofyan Djalil, menteri yang berasal dari Aceh, untuk pergi ke Banda Aceh siang itu, setelah media mengumumkan gempa berkekuatan 9,3 SR. Sofyan mengecek bagaimana situasi di lapangan.

“Besok pagi-pagi sekali saya ke Banda Aceh,” bisik JK. Teman-teman yang duduk agak jauh tidak mendengar, sebagian masih makan.Saya spontan berkata, “saya ikut ya Pak.” JK mengiyakan dan meminta saya berkumpul di bandara Halim Perdanakusuma pukul 5 pagi.

JK menyiapkan pesawat jet pribadinya, Atthirah, diambil dari nama ibu kandungnya, untuk mengangkut rombongan ke Banda Aceh. Bandara di sana rusak, tak ada pesawat komersil yang berani mendarat.

Kami tiba di Lambaro, sekitar 20 menit dari bandara Sultan Iskandar Muda mengarah ke pendopo gubernuran di tengah kota Banda Aceh. “Saya lihat Menteri Sri Mulyani menangis. Uni Lubis bercucuran air mata sambil menyorotkan handycam-nya,” kata JK dalam buku yang akan diluncurkan hari ini (26/12/2014), di pendopo gubernuran di Banda Aceh.

Setelah sama-sama menjadi korban kedahsyatan tsunami, mereka yang terlibat dalam konflik puluhan tahun di bumi Serambi Mekkah, menyadari pentingnya membangun kembali Aceh, dan itu hanya bisa dilakukan dalam suasana damai.

Pak JK memimpin semua proses ini hari demi hari, jam demi jam, dengan segala kepiawaian seorang politisi dan pebisnis. Memikirkan semua aspek yang potensial membuka ruang solusi.

Buku Ombak Perdamaian membahas kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke kantor Wapres JK, pada 10 Januari 2005. SBY datang untuk mendengarkan memorandum yang disampaikan wapresnya, usulan bagaimana solusi pasca bencana ke arah perdamaian. SBY menyetujui ide JK. The rest is history.

Sesudah buku ini, semoga tak ada lagi polemik di antara pendukung JK dan pendukung SBY soal siapa yang paling berperan dalam memimpin penanggulangan bencana di Aceh. SBY adalah presiden, yang menyetujui pengambilan keputusan. JK adalah otak semua kegiatan itu.

Pak Jakob Oetama, pendiri dan pemimpin kelompok penerbitan Kompas menyebut JK sebagai sosok yang “get things done”. Bisa mencari solusi dan menjalankan solusi itu. Tidak semua pemimpin mempunyai kualitas itu.

Saya senang Fenty Effendy menuliskan buku ini, yang isi pokoknya bagaimana peran penting JK dalam penanganan pasca bencana tsunami di Aceh dan Nias, sampai ke proses perdamaian antara pihak Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka.

Selengkapnya di http://www.rappler.com/world/regions/asia-pacific/indonesia/79023-jusuf-kalla-perdamaian-aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here