Kisah Si Anak Priok Meraih Mimpi

0
84

TEMPO.CO, Jakarta -Jalan hidup orang tak pernah ada yang tahu. Awalnya menderita, suatu saat justru bisa meraih kesuksesan. Demikian juga dengan kisah hidup Ahmad Sahroni. Siapa sangka anak penjual nasi Padang di pelabuhan Tanjung Priok bermodal tekad, semangat dan kegigihan meraih sukses.

“Dulu, saya ingin masuk DPR karena melihat gagahnya mereka memakai jas dan dasi. Ternyata, tanpa duduk di parlemen pun hidupnya bisa berkecukupan,” kata pria berkulit putih itu dalam peluncuran bukunya berjudu Ahmad Sahroni. Anak Priok Meraih Mimpi. Dalam acara yang berlangsung di Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta Pusat (dulu Buddha Bar), Senin malam, 23 September 2013.

Roni, sapaannya setelah menanggalkan seragam putih abu-abu, memterpakukan nasibnya di kawasan Priok tempat tinggalnya yang kumuh dan miskin. “Saya punya harapan ingin maju. Mungkin bisa saja saya mengikuti jejeak nenek dan ibu sebagai penjual nasi Padang. Tetapi saya bersukur ada sesuatu yang luar biasa yang terjadi dalam hidup saya sehingga saya terhindar menjadi pedagang nasi Padang karena ada orang-orang hebat yang saya temui dalam perjalanan hidup saya,” ungkap Roni panjang lebar.

Nenek dan ibunya telah membelokan jalan hidup Roni dan tak membiarkannya larut dalam kerasnya kehidupan Priok. “Uneh dan Mamak (panggilan untuk nenek dan ibunya) selalu mengingatkan saya sholat untuk doa buat keselamatan saya sekaligus membukakan jalan untuk keberhasilan saya. Dan alhamdulillah saya bisa seperti sekarang,” kata Roni yang merintis karir dari menjadi supir, bekerja di kapal asing dan beberapa perusahaan hingga kini menjadi pengusaha. Bahkan sekarang, Roni merupakan Ketua Ferrari Owner’s Club of Indonesia.

Buku setebal 131 halaman yang terdiri dari tiga bab ini ditulis oleh Fenty Effendy dengan gaya bahasa yang mengalir, apa adanya, dan tanpa menggurui. Bisa jadi Fenty piawai menulis karena dia berkarir sebagai jurnalis di beberapa media Majalah Forum, ANTV, Metro TV, dan tvOne.

Fenty, merupakan penulis biografi para tokoh yang sudah melahirkan beberapa karya  antara lain Titik Balik BIMA ARYA tahun 2013, Buku Karni Ilyas Untuk Berita tahun 2012, lalu Buku Tiga Tahun Untuk Selamanya. Catatan HIPMI 1972-2011 (ditulis bersama Neneng Herbawati), Buku Mereka Bicara JK tahun 2009 dan Buku Agum Gumelar-Jenderal Bersenjata Nurani tahun 2004.

Wanita asal Minang ini juga menjadi periset dan reporter untuk Buku Barack Obama. The Story tahun 2012 yang ditulis oleh wartawan senior The Washington Post, David Maraniss. Dia juga menyunting buku Adrianto Machribie-Setia Kepada Integritas dan Profesionalitas tahun 2011 dan Buku Ibnu Sutowo-Saatnya Saya Bercerita tahun 2008.

“Saya melihat sosok Roni memiliki zig zag kehidupan menarik. Pada dasarnya semua orang adalah kaya. Orang bisa tanpa terkecuali memiliki apa yang dilakukan Roni yaitu kerja keras, tidak gampang menyerah, sabar dan jujur. Sayang, kita kebanyakan lupa bahwa harta itu melekat dalam diri kita,” ujar Fenty yang kini akan memfokuskan diri sebagai penulis dan meninggalkan karirnya sebagai jurnalis televisi. (Hadriani P) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here