Mata Najwa Mantra Layar Kaca

0
26

Berbagai kisah di balik layar di dalam buku ini cukup membantu pembaca, terutama mahasiswa dan peminat dunia broadcasting untuk “ikut mengalami” seluk beluk proses produksi program talkshow politik yang berpengaruh di Indonesia.

Fenty Effendy, penulis buku “Mata Najwa Mantra Layar Kaca”, apik dalam merekam dan menyuguhkan momen-momen penting dalam perjalanan Mata Najwa, baik yang telah menjadi konsumsi publik, maupun peristiwa-peristiwa yang selama ini menjadi kisah-kisah yang hanya melegenda di kalangan “orang dalam” Metro TV.

Penulisan yang luwes memungkinkan pembaca seolah-olah masuk ke dalam ruang rapat tim “Mata Najwa” yang penuh pergulatan ide, dan menyaksikan langsung proses syuting yang kadang mengharu biru, seperti saat B.J. Habibie mencurahkan kesedihannya setelah ditinggal sang istri, Hasri Ainun Habibie, dalam episode Separuh Jiwaku Pergi.

Ada pernyataan-pernyataan inspiratif dari kepala daerah tingkat dua yang sukses membawa kemajuan daerah mereka pada episode “Menatap yang Menata”. Pun, dialog-dialog segar ketika “Mata Najwa” menghadirkan tokoh-tokoh nasional seperti Boediono, Joko Widodo, Jusuf Kalla, Megawati, Prabowo Subianto dan lain-lain.

Halaman demi Bagian-bagian dialog dalam “Mata Najwa” yang kembali diangkat dalam buku ini menjadikan “Mata Najwa Mantra Layar Kaca” seperti rangkuman dokumentasi peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Tanah Air dengan sudut rasa yang berbeda. Data, pengakuan, emosi yang tergali dari narasumber, dan kepiawaian Najwa menyelisik, berkelindan apik: sebagai catatan-catatan sejarah, buku kisah inspiratif, di satu sisi – atau mungkin – buku komunikasi seri seni wawancara, di sisi lain.

halaman buku ini membawa pembaca untuk memahami bagaimana “Mata Najwa” menggerakan logika untuk berstrategi menyingkap data dan rasa dari narasumbernya agar tujuan akhirnya dalam satu episode tercapai.

Ini menarik. Sebab cara dan gaya bertanya Najwa Shihab bagi sebagian orang diangggap terlalu “menghakimi” atau “menelanjangi” narasumber. Seperti saat mewawancarai pengacara Farhat Abbas, penyanyi Rhoma Irama, atau ketika mewawancarai calon legislator Angel Lelga. Dalam buku ini, penulis menyinggung apa yang diyakini Najwa Shihab dalam memainkan perannya sebagai pewawancara.

Di layar kaca, Najwa terlihat hanya tinggal duduk manis dan berbincang dengan narasumber, tetapi di belakang, prosesnya tidak sesederhana itu. Najwa kadang harus turun langsung untuk mengejar narasumber di lapangan, sama seperti jurnalis umumnya.

Sejak awal, “Mata Najwa” memang mantap untuk berkelit dari penyajian isu politik yang hanya berisik. Mendekati persoalan dengan apa yang mereka sebut “politik rasa”, “Mata Najwa” menemukan relevansinya dengan kredo “cara beda menikmati berita”.

Buku ini bisa dibolak-balik oleh siapa pun terutama penikmat, atau penggiat jurnalistik, sebagai materi-materi yang layak dijadikan referensi tentang bagaimana sebuah berita politik bisa lebih didengar tanpa harus menampilkan kegaduhan.

“Saya sangat sadar, acara talkshow bermuatan politik mengandaikan seorang pemandu yang bukan sekadar bertanya, melainkan pula menguji pernyataan, menunjukkan ironi, menghadirkan fakta-fakta yang saling bertubrukan, hingga mengaduk emosi sampai batas-batas terjauhnya,” kata Najwa Shihab dalam pengantarnya. Mungkin inilah salah satu kuncinya.

Selengkapnya: http://hiburan.metrotvnews.com/read/2015/06/22/406692/mata-najwa-mantra-layar-kaca

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here