Membaca Dunia Obama

0
59

Inilah sebuah buku yang mencoba membedah sisi kepemimpinan Obama. Meski terbit pada awal 2012, urgensi buku ini masih sangat terasa mengingat AS saat ini sedang menghadapi masa-masa sulit, sekaligus sebagai ujian bagi komitmen Obama mewujudkan American dream.

‘Impian Amerika’ adalah narasi yang selalu hidup dalam imajinasi sosiologis Amerika sebagai ‘bangsa’. Pada 2008, Obama berhasil mentransformasi dirinya menjadi contoh hidup impian Amerika. Lewat Obama, Amerika sebagai tanah harapan, tempat keberhasilan dapat dicapai oleh siapa saja yang bekerja keras, mewujud nyata. Pada Obama, keyakinan bahwa “semua orang diciptakan sama” seperti tercantum dalam Deklarasi Kemerdekaan menjadi bernyawa. Sebab, dialah presiden pertama AS yang berkulit hitam.

Dalam konteks sosio-politik itulah buku ini hadir. Penulisnya yang juga redaktur The Washington Post dan anggota Society of American Historians mencoba menelisik sisi-sisi Obama secara objektif dibalut semangat ‘impian Amerika’ itu. Sebelumnya David Maraniss menulis biografi Bill Clinton yang mengundang banyak pujian. Kali ini, dia datang dengan sebuah biografi generasional yang ambisius, merentang jauh ke masa sebelum Obama lahir dengan tekad menjelaskan dunia macam apa yang menciptakan Obama seperti dirinya yang sekarang.

Dalam buku ini, Maraniss mencoba berjarak dengan fenomena Obama hari ini dan memilih untuk menjelaskan faktor-faktor ruang dan waktu yang menciptakan Obama, jauh sebelum presiden AS keturunan salah satu suku di Kenya, Afrika, itu lahir.

Maraniss melukis di kanvas besar suatu galaksi kaotis, betapa hidup ialah jalin-kelindan sejumlah insiden, kesempatan dan kegigihan tekad. Maraniss berusaha keras menemukan dan mengurai, dalam beberapa kesempatan membuktikan serta menjustifikasi, keterhubungan orang, peristiwa dan situasi dengan perjalanan hidup dan cara Obama menyikapi dunianya.

Cerita dan Justifikasi
Buku ini menyajikan keluasan riset yang mengagumkan. Maraniss mencari pertautan peristiwa sejak 1920-an, baik dari sisi Amerika maupun sisi Afrika pendahulu Obama.

Pada bagian awal, bab mengenai Amerika dan Afrika silih berganti menjelaskan berbagai situasi lokal dan dunia yang—menurut penulisnya—dapat menjadi penjelas dari peristiwa atau pemikiran yang muncul berikutnya. Tidak dapat dipungkiri pada beberapa bagian Maraniss berusaha keras menggali unsur naratif dan membangun drama dari kehidupan keseharian Obama.

Pilihan Maraniss untuk berpanjang-panjang menceritakan kisah cinta muram antara Obama dan Genevieve Cook yang berjalan seiring dengan kegelisahan pencarian jati diri Obama menyeret alur buku ini menjadi limbung.

Berbeda dengan bagian pasca-Perang Dunia II yang dituturkan Maraniss dengan cekatan, buku ini berakhir ketika Obama akan berangkat ke Harvard tanpa penjelasan mengapa Maraniss mengakhirinya sampai di situ.

Pada episode kehidupan di New York, Maraniss berhasil menggali fakta baru. Dalam suatu obrolan dengan temannya, Obama pernah mencetuskan pertanyaan, “Apakah aku bisa menjadi presiden AS?”

Mir Mahboob Mahmood dari Pakistan ingat betul peristiwa tersebut. Kala itu Mahmood menjawab, “Ketika Amerika siap menerima presiden berkulit hitam, kau pasti bisa.”

Episode Indonesia
Bagi pembaca Indonesia, penggal kehidupan Obama di Indonesia selalu menggelitik. Maraniss dibantu oleh jurnalis dan biografer Fenty Effendy dalam melakukan riset berhasil menggali beberapa nukilan cerita baru. Misalnya, tentang kisah Obama ketika bersekolah di SD Fransiskus Asisi, Tebet, yang selama ini seolah tenggelam dibanding cerita tentang Obama bersekolah di SD Menteng.

Penggalian tentang kiprah Ann Dunham selama di Indonesia memperkaya buku ini. Pergulatannya dengan status sebagai ekspat dan ‘bule’ digambarkan secara menggelitik justru berhasil menggambarkan situasi Indonesia waktu itu.

Maraniss membuka salah satu bab tentang Indonesia dengan nukilan puisi Amir Hamzah. Inspirasi ini didapatnya ketika mendatangi rumah Obama dan menemukan ada Taman Amir Hamzah yang sebelumnya adalah tanah lapang tempat Obama bermain.

“Buku Barack Obama. The Story” bisa menjadi bahan diskusi tentang kehidupan privat dan publik. Kapankah hidup privat seseorang, sekalipun itu seorang presiden, dapat ditulis sebagai sejarah publik? Dalam buku ini Maraniss juga memverifikasi memoar Dreams from My Father yang mengantar kita pada pertanyaan berikutnya, apakah memoar bisa diverifikasi?

Memoar adalah cara seseorang mengingat hidupnya sendiri. Berbeda dengan otobiografi yang berakar pada fakta sejarah, memoar memberi bingkai subyektif dengan cara membatasi dan menentukan apa yang dimasukkan dalam narasi.

Terlepas dari ketepatan metodologisnya, langkah Maraniss memperbincangkan memoar Obama menegaskan bahwa sejarah bukan milik seseorang. Sejarah ada dan hidup karena kita membicarakannya. Sehingga, penulisan sejarah dapat mencapai tujuannya, yaitu agar kita memahami diri lebih baik lagi. (Dadi Krismatono, penulis dan praktisi komunikasi di Jakarta).

*Media Indonesia, 10 Maret 2013

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here