“Najwa, May I Hug You?”

0
36

Anda yang menonton Mata Najwa episode “Di Balik Diam Boediono” di Metro TV pada hari Rabu malam (19/3), semoga sama menikmatinya seperti saya. Kapan lagi bisa menyaksikan seorang pemimpin yang begitu sederhana? Dinding rumahnya di Sleman, Yogyakarta, retak-retak dan perabotannya pun sudah ketinggalan zaman. Ia membelikan mobil-mobilan untuk cucunya dari pedagang pinggir jalan. Olahraganya murah meriah: berjalan kaki.

“Karena anda terlalu rendah hati untuk bercerita tentang kesederhanaan, jadi kami mengumpulkan fakta-fakta dan bertanya kepada sejumlah orang,” kata yang punya acara, Najwa Shihab.

Maka terungkaplah kalau sang wakil presiden ketat memisahkan antara pengeluaran untuk kepentingan pribadi dan atas nama Negara. Boediono mengeluarkan uang dari koceknya sendiri untuk membayar tiket pesawat yang dipakai keluarganya pergi berhaji. Alasannya, karena ibadah itu ditunaikan atas keinginan pribadi. Tindakan serupa ia lakukan sepulang tugas Negara ke Kazakhstan. “Jumlah kaos singlet yang dibawa tidak cukup karena udaranya sangat panas, jadi terpaksa kami beli di sana. Sampai di tanah air, beliau minta bonnya untuk dibayar sendiri,” cerita Mohamad Oemar, Sekretaris Wakil Presiden.

Walaupun di menit-menit awal agak garing karena pertanyaan Najwa Shihab dijawab pendek dan singkat, tapi pak Boed – begitu ia disapa – menjawab apa yang ingin ditanyakan kepadanya sebagai seorang pejabat publik. Saya dengar, tidak ada daftar pertanyaan yang dikirim ke juru bicaranya, Yopie Hidayat. Ini agak di luar kebiasaan para pejabat di negeri ini.

Boediono baru menjelaskan panjang lebar ketika ditanya tentang keputusannya, sebagai Gubernur Bank Indonesia waktu itu, untuk menyelamatkan bank Century. “Saya melihat, mengalami, dan merasakan, ada karakteristik tertentu yang kita alami pada situasi krisis. Perkembangannya bukan hari per hari, tapi jam per jam, bahkan kurang dari itu. Pada saat seperti itu, sering kita dihadapkan pada informasi yang ketinggalan dengan keadaan di lapangan saat itu. Ada gap. Dan gap ini harus kita isi. Dengan apa? Dengan keyakinan kita, dan dengan apa yang kita dapat dari pengalaman sebelumnya.”

Ia melanjutkan, “Apa yang perlu saya hadapi, tentu akan saya hadapi. Saya masih percaya sekali proses hukum dan itulah yang harus kita lakukan. Saya percaya dalam proses yang akan datang, kebenaran dan keadilan akan kelihatan. Saya sendiri, di hati saya, memang tidak ada beban. Saya mengambil keputusan itu dengan segala ketulusan hati saya untuk mengatasi masalah. Dan saya, pada waktu mengambil keputusan itu, memperhitungkan apa yang saya lihat sebagai langkah yang harus kita lakukan pada saat-saat seperti itu. Banyak sekali kritikan, tapi saya kira saya terima saja. Saya merasakan bahwa saya diberi kesempatan pada masa kritis untuk menangani, dan menurut saya ada hasilnya untuk bangsa ini. Setelah melewati krisis tahun 2008, ekonomi kita terus bergerak maju. Tumbuh. Dan kalau kita lihat, kita tumbuh jauh lebih baik dibanding Negara-negara sekitar kita, bahkan Negara-negara lain di dunia.”

Jadi, tanya Najwa lagi, anda tidak akan melakukan hal berbeda walaupun mengetahui hal lain? Boediono menjawab, “Saya kira akan tetap.”

Selain kesederhanaan yang menyentuh dan keteguhannya dalam bersikap, ada satu hal yang ingin saya garis-bawahi dari tanya-jawab yang aslinya berlangsung sekitar 90 menit itu. Tak sekalipun wakil presiden ini membicarakan, apalagi menyalahkan, apatah pula melempar tanggung-jawab kepada pejabat lain atau bawahannya. Boediono tak tergoda menyebut nama, walaupun Najwa memancingnya. Ia tak terjebak ketika dibandingkan dengan wakil presiden sebelumnya, Jusuf Kalla. Tidak juga ia menuding pers telah berlaku tidak adil kepadanya.

Ia, wakil presiden yang sebentar lagi akan mengakhiri masa jabatan, memilih bekerja dalam diam, dengan keyakinan dan keikhlasan yang barangkali hanya dirinya sendiri yang paham. Ini sikap langka di kalangan pejabat dan pemimpin kita, terlebih di tahun politik yang hiruk pikuk seperti sekarang.

Sosok Boediono semakin utuh terbaca ketika puteri sulungnya, Ratrie, yang bermukim di Singapura, tampil di akhir acara. Ia bercerita: “Beberapa tahun lalu, saat kegalauan melanda, seorang pria brewok mengatakan pada saya, “Worry not, my child, for he is a man who would not take the easy way out, if it means for the good of the country. Those who know him will attest to that.”

Para pejabat yang duduk di barisan paling depan, termasuk Menteri Keuangan Mohammad Chatib Basri dan M. Ikhsan, menganggukkan kepala. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Pangestu, terlihat haru, matanya berkaca-kaca.

Kemunculan Ratrie, yang lima tahun silam tidak setuju Boediono menjadi wapres, memang dimaksudkan sebagai kejutan. Ide mengundangnya berasal dari pak Oemar. Sebab sedianya sang wapres akan berangkat ke negeri Singa untuk bertemu cucunya sekaligus merayakan ultah Ratrie, tapi ditunda karena Mata Najwa.

“Sebagai pribadi Pak Boed suri teladan, sebagai pejabat silakan diperdebatkan,” kata Najwa di Catatan penutup Mata Najwa. Saya setuju. Biarlah pengadilan yang menentukan apakah ia – dengan pengalaman 30 tahun di pemerintahan dan merasakan berbagai krisis dari yang mini sampai setengah besar – perlu mempertanggungjawabkan keputusannya.

Saya beruntung menyaksikan langsung wawancara tanpa sensor yang berlangsung pada hari Jumat malam (14/3) itu. Usai taping, ada satu peristiwa yang luput dari perhatian orang-orang karena hanya berlangsung beberapa detik. Yaitu ketika pak Boed yang sudah bersalaman dengan Najwa Shihab dan tinggal selangkah lagi masuk mobil RI-2, tiba-tiba berbalik dan berkata pelan, “Najwa, may I hug you?”

Seperti mendengar orang tua yang mau memeluk anaknya, Najwa menjawab spontan, “Yes, pak.”

Saya kira suasana kebatinan sang wakil presiden yang baru saja berulang tahun ke 71 itu, telah berbicara. Malam itu juga, ketika menikmati bubur ayam di kaki lima di kawasan Menteng bersama Najwa Shihab dan Dahlia Citra produser Mata Najwa, seseorang yang mengenal baik Boediono berkirim pesan. “Its a very good show. He is a very difficult ice to crack yet you’ve done it extremely well.”

Najwa tersenyum usai membacakan pesan itu. Sambil mengaduk-aduk makanannya, ia berkata, “Bubur ayamnya enak ya!?”***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here