News Hunter yang Tak Kenal Pensiun

0
70

Buku yang penting untuk menambah wawasan mereka yang terlibat di dunia jurnalistik, mulai wartawan hingga redaktur senior.

“Andaikan saya pulang setelah makan siang seperti wartawan lainnya, pastilah saya melewatkan berita yang jadi headline eksklusif itu,” ujar Sukarni Ilyas dalam bedah bukunya di Istora Senayan Minggu lalu (25/11).

Karni – panggilan akrabnya – mengenang prestasinya menulis tentang Syarifa, gadis belia yang pada 1973 menelan silet di pengadilan karena pacarnya divonis bersalah oleh hakim. Dia satu-satunya wartawan yang hadir dan memotret kejadian itu.

Syarifa terkenal dengan sebutan Siti Nurbaya 1973. Dia dipaksa menikah pada usia 12 tahun oleh ibu dan neneknya. Setelah melahirkan seorang anak, Syarifa dipaksa cerai dan dinikahkan dengan lelaki lain. Dia berontak dan kabur dengan pacarnya, Jemsar Salim. Jemsar ditangkap polisi dan dituntut oleh ibu Syarifa.

Hari itu, 21 Juli 1973, Sabtu, lazimnya tak ada sidang yang dihelat di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Berbeda dengan wartawan pengadilan lainnya, Karni tetap nyanggang.

Rupanya saat itu hakim membaca vonis terhadap kasus Syarifa. Sesaat setelah palu diketok, Syarifa bangkit dan mengeluarkan silet. Karni menulis dalam laporannya, “Saya lebih baik mati, ujar Syarifa, lalu terkulai di pelukan Assegaf, pengacaranya… Banyak ibu-ibu yang tidak dapat menahan air matanya melihat tragedi anak manusia yang dijauhkan dari cinta.” (halaman 51).

Buku yang berjudul Karni Ilyas : Lahir Untuk Berita ini mengisahkan liku-liku perjalanan Karni Ilyas sejak kanak-kanak hingga sekarang. Buku yang ditulis Fenty Effendy ini mengisahkan detail kehidupan Karni, yang juga mantan anggota Komisi Kepolisian Nasional itu, terutama pergulatannya dengan perburuan berita.

Karni lahir dari pasangan Syamsinar dan Ilyas di Jorong Pahambatan, Balingka, Sumatera Barat, pada 25 September 1952. Sebuah kampung asri di tepi jalan menuju danau Maninjau. Karni kecil hidup dalam liku-liku yang unik dan keras. Ibunya wafat dalam proses melahirkan adik keduanya yang juga tidak selamat. Saat itu dia baru kelas II sekolah dasar. Beragam profesi Karni kecil juga gamblang di buku ini, mulai dari menjadi kuli angkut beras, loper koran, hingga mengumpulkan debu emas. Di sela-sela trotoar toko emas, ada tanah-tanah yang tercampur debu bekas kikiran emas. Debu-debu kecil itu Karni kumpulkan, dipanaskan, lalu dijual kembali (halaman 19).

Karni merantau ke Jakarta pada Desember 1971. Dengan menumpang kapal dan bermodalkan 3 ribu, dia mengadu nasib. Singkat cerita Karni berhasil diterima sebagai reporter di Suara Karya setahun kemudian, 15 Juni 1972. Di Suara Karya, beragam liputan eksklusif ditulisnya.

Karni berpindah ke Tempo pada 1978 dan berkarir selama 14 tahun. Banyak kisah eksklusif yang ditulisnya di Tempo, di antaranya – yang dianggap sangat fenomenal – sukses mewawancarai Kartika Thahir di Jenewa pada 1992. Kartika adalah istri kedua Haji Achmad Thahir, asisten umum Dirut Pertamina kala itu, Ibnu Sutowo. Kartika dan Pertamina berperkara di pengadilan sejak tahun 1978 terkait rekening Achmad Thahir senilai USD 79 juta (halaman 122). Jadi, wawancara itu adalah hasil lobi Karni selama 12 tahun.

“Itu perjalanan paling dramatis saya. Saya berangkat ke Jenewa Senin, wawancara Kamis, Jumat pulang ke Jakarta langsung ke kantor, pulang Sabtu malam karena mengerjakan laporan utama Tempo. Sendiri saja. Makanya saya benci banget kalau lihat wartawan sekarang, pulang dari luar negeri pakai istirahat dulu sehari dua hari,” ujar Karni di bukunya (halaman 130).

Pada 1983-1984, Karni ditugaskan Goenawan Mohamad membantu Dahlan Iskan membesarkan Jawa Pos di Surabaya. Lalu, dia ditarik menjadi redaktur pelaksana bidang hukum Tempo . Dia lalu menerima penugasan dari Eric Samola (Grafiti Pers) untuk membesarkan majalah Forum Keadilan hingga sold out terus di era 1996-1997.

Walau sudah menjadi pemimpin redaksi, Karni selalu mengontrol setiap isu yang ditulis wartawannya. “Menulis berita itu adalah hasil usaha, jangan kayak menunggu tahi hanyut,” begitu katanya. Artinya, dia sangat mengharamkan budaya copy-paste yang belakangan marak di kalangan wartawan.

Karni sering melempar majalah jika wartawannya menulis dangkal, namun juga sering memuji dan mengajak makan enak di luar kantor jika liputan anak buahnya bagus (halaman 197).

Setelah dari media cetak, Karni berpindah ke televisi. Mulai SCTV, antv, dan sekarang di tvOne. Masih sama dengan saat menjadi wartawan cetak, Karni turun langsung memimpin peliputan di lapangan. Termasuk saat melaporkan langsung penggerebekan anak buah Noordin M. Top di Wonosobo pada 2005 dalam kondisi tangan patah karena terpeleset jatuh saat transit mengikuti rombongan Densus 88 di Jogjakarta.

Penulis buku ini, Fenty Effendy, mengakui proses menyusun buku Karni cukup rumit dan membutuhkan verifikasi data berulang-ulang. “Cerita Bang Karni runtut, tapi soal mengingat tanggal dia sering lupa,” kata mantan anak buah Karni di FORUM Keadilan dan sekarang menjadi timnya di tvOne ini.

Membaca buku ini kita menjadi tahu tali-temali hubungan Karni Ilyas dengan puluhan tokoh penting di negeri ini. Misalnya, kisah kedekatan Karni Ilyas dengan SBY yang dikenalnya sejak berpangkat Brigjen dan menjadi Kasdam Jaya.

Buku ini penting dibaca wartawan muda, namun juga sangat layak sebagai penambah wawasan para redaktur senior, bahkan level pemimpin redaksi. Dari 396 halaman, Fenty menuliskannya dengan gaya deskriptif sehingga bisa “dicemil” pelan-pelan bab demi bab. (Ridlwan)

*Jawa Pos, 2 Desember 2012.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here