Rumah Nomor 2

4
285

 

Kami bekerja di kantor yang sama pada 1998. Winda Veralita account executive sementara saya calon reporter yang masih harus digojlok sembilan bulan (!) untuk sah menyandang brevet reporter majalah FORUM Keadilan. Karena beda divisi, pergaulannya juga beda. Jadi jarang ketemu. Ketika “matahari” FORUM Karni Ilyas hengkang, satu-persatu karyawan pun keluar, berpencar-pencar, termasuk saya dan Winda. Facebook-lah yang membuat kami saling tahu kegiatan masing-masing dan sesekali berjumpa.

Tahun 2013, kami sama-sama undur diri dari kerja kantoran dan sempat makan siang bareng. Saya bilang “jadi penulis aja deh…”, sedangkan Winda ingin berwirausaha furnitur dengan temannya.

Secara kebetulan, ketika laman versi baru sedang dikerjakan, Winda ada janji temu dengan kliennya di dekat rumah saya. Jadilah kami makan siang bersama dan obrolan seputar usahanya menjadi semacam “gunting pita” janji untuk menulis lebih sering lagi.

Winda memulai usaha dengan modal 5 juta, hasil urunan berdua. Desain dan produksi dikendalikan mitranya, sedangkan dia kebagian mengeksekusi promosi dan pemasaran. Pengalaman kerjanya terpakai sekali. Dia membuat semacam sayembara “regrann and win” di Instagram. Momennya pas, saingan masih jarang, bahkan IKEA belum masuk ke Indonesia, sehingga furnitur relatif murah  tapi lcu yang ditawarkannya langsung disambut hangat. Tak sedikit pesohor yang memesan langsung, tidak ikutan sayembara. Sekedar menyebut nama, Joko Anwar salah satunya.

Namun usaha patungan ini tak bertahan lama. Memasuki tahun kedua, kongsi mereka bubar karena perbedaan visi tentang produksi dan hal-hal lain. Merek dagang dibawa sang mantan, Winda kebagian mesin kerja. Dia harus mulai dari nol lagi: menemukan tukang dan bahan pallet yang sesuai.

“Tukang berkali-kali ganti sampai nemu yang bisa diandalkan. Dan aku sampai hapal dan tahu di mana bisa mendapat pasokan palet standar Eropa,” kata Winda.

Dia sempat pusing menemukan merek dagang yang gampang diucapkan dan gampang pula diingat. Itu dua syarat penting kalau mau jualan. Dan ternyata tidak mudah menemukan kata yang pas walaupun sudah minta bantuan sepupu yang orang iklan. Sampai suatu waktu suaminya berdiri di depan rumah mereka.

“Kenapa nggak ini aja?,” kata Trias, sambil menunjuk ke atas.

Kediaman mereka di Cibubur memang ditulis beda: “Rumah Nomor 2”.

Yeay! Winda langsung bersorak. Bungkus!

Ibu dua anak ini menyiapkan usaha barunya custom furniture. Konsumen bisa minta bikin mebel dengan bahan apa saja sesuai keinginan, gaya, dan bujet mereka, termasuk mau warna apa. Begitu pun soal bahan, pallet base seperti usaha pertama oke, kayu solid hayo…, multipleks, besi, dan lain-lain juga bisa…

Winda kembali menyisir IG, mencari-cari pesohor yang mau mempromosikan produknya. Ketemulah Puri, pemilik @idekuhandmade yang follower-nya sudah puluhan ribu. Tadinya Winda menawarkan untuk membuatkan meja kerja, namun Puri ternyata butuh rak-rak untuk koleksi craft dan boneka di apartemennya.

“Ya sudah, aku kerjain… Puri senang, lalu posting di IG-nya, dan kebaca sama Mariana, mantan art director yang bikin usaha fondant cake. Pemilik akun @hoggerngogger ini ikutan sayembara “what is your furniture wish list” yang aku buat. Dia kepengen dibikinin kitchen island table. Aku bikinin…”

Bisa ditebak kemudian, Mariana pun suka, posting di IG, dan dioleh orang Nutrifood yang butuh mebel buat mengisi kantor baru mereka. Jadilah Winda mendapatkan klien kantoran yang pertama.

Berapa lama rentang waktu dari Puri ke Mariana lalu ke Nutrifood?

“Enggak sampai sebulan,” jawab Winda.

Wow, cepat sekali?!

“Yes!” Winda mengangguk-angguk, senang.

Pesanan berturut-turut di tahun lalu itu semacam kebangkitan bagi usahanya karena pasca pecah kongsi dia bokek habis-habisan.

Saya bertanya kepada lulusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS ini, apa yang membuat usahanya maju cepat?

“Aku melihat teknologi cuma alat agar produk kita dikenal. Kita harus cepat merespons permintaan customer dan yang lebih penting lagi adalah menjaga kualitas produk. Sebab kalau pelanggan puas, mereka nggak segan ‘pamer’ di socmed.

Kedua, penting untuk bergaul dengan sesama pengusaha sehingga kita tahu bahwa situasi-situasi tertentu itu wajar. Pernah aku ngobrol sama teman, ternyata dia punya piutang dua miliar tapi belum bisa ditagih sedangkan uang di ATM cuma dua ratus ribu! Aku jadi paham bahwa yang namanya wirausaha itu memang jatuh bangun. Kalau situasi sedang sulit, justru harus kerja lebih keras lagi, harus lebih kreatif lagi, karena akhir bulan kan tukang-tukang harus gajian…”

Winda mengatakan menjadi entrepreneur membuatnya tambah dewasa dan sabar. Bayangkan, pernah ada satu masa dia melayani percakapan dengan 40 kontak via Whatsapp, ada yang nanya tengah malam atau jam lima pagi, tapi enggak satu pun jadi order.

Ketika tahu saya berencana menuliskan kisahnya, Winda menyebut orang-orang yang pernah menjadi atasannya. Dia mengambil hal-hal baik dari mereka, yang jelek-jeleknya dibuang ke keranjang. Dari Mira Djarot waktu bekerja di FORUM Keadilan, Winda belajar “memasarkan” diri. Dia ingat sekali proposal yang dibuatnya bolak-balik dikoreksi Mira sampai dia stres. Tapi manfaatnya terasa sampai bertahun-tahun kemudian.

Di Cosmopolitan, ada Yulia Ayu Trisia dan Nuky Surachmad yang mengajarkannya tentang kerja keras dan bahwa dia mampu melakukan sesuatu yang tadinya dianggap tidak mungkin. Sedangkan pimpinan tertinggi dan pemilik Cosmopolitan, Dian Muljadi, mengajarkannya bahwa menjadi bos itu harus mau tangannya kotor. Bos mesti terjun langsung, mesti tahu sampai ke detil-detilnya.

Demikianlah. Makan siang tuntas, kami pun berpisah. Senang melihat teman yang makin sukses dan para mantan bos Winda pastilah ikut berbangga.

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here