Saatnya Bercerita tentang Krisis Pertamina

0
32

Ibnu Sutowo sempat menjadi bulan-bulanan pers ketika ia memimpin Pertamina. Pers (di antaranya harian Sinar Harapan) menuding krisis Pertamina pada tahun 1975 itu diakibatkan bukan hanya tata buku yang buruk, longgarnya rentang kendali atau keberanian tanpa rem untuk berspekulasi, tetapi intinya lebih mendalam dan mungkin bersumber dalam strategi pembangunan. Benarkah? Apakah ini merupakan semata kesalahan Ibnu Sutowo?

“Orang-orang bicara krisis Pertamina tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Penggede di pemerintahan pun bicara seenaknya tentang Pertamina. Menanggapi hal ini saya bersikap menahan diri dan berkeyakinan bahwa yang saya kerjakan di Pertamina semata-mata untuk kepentingan bangsa,” kata Ibnu Sutowo. Komentar Ibnu Sutowo ini tertuang dalam buku biografinya yang berjudul “Ibnu Sutowo: Saatnya Saya Bercerita!” yang ditulis Ramadhan K.H. dan diterbitkan National Press Club of Indonesia (NPCI) kemudian diluncurkan di Yogyakarta, Jumat (20/3).

Peluncuran buku yang berlangsung di Gedung Pusat Antar Universitas (PAU) Universitas Gadjah Mada ini juga dihadiri Pontjo Sutowo, anak kandung Ibnu Sutowo. “Buku ini bukan buku putih kasus tersebut sebagai pembelaan diri. Silakan masyarakat yang menilai sendiri,” kata Pontjo. Menurut Pontjo, biografi ayahnya ini hanyalah semata agar orang lain mengetahui sisi sebenarnya dan mengenal Ibnu Sutowo sebenarnya. Sebab, hingga wafat tahun 2001, dugaan atau tuduhan terhadap ayahnya melakukan korupsi masih sangat kuat.

Sebetulnya, Ibnu Sutowo bisa saja menepis tudingan miring atas dirinya itu. Hanya saja, kala itu dia dilarang untuk bicara. “Sekarang, saya bisa menerangkan, saya bisa bicara, walaupun ada batasnya juga,” kata Ibnu dalam buku biografinya setebal 537 halaman. Ibnu Sutowo secara gamblang menjelaskan kenapa Pertamina mengalami krisis waktu itu. Kala itu Pertamina harus mengerjakan beberapa proyek pembangunan seperti Krakatau Steel, Otorita Batam dan lain sebagainya. Untuk membiayai itu, pada tahun 1974 Pertamina mengajukan pinjaman jangka panjang kepada bank di Amerika senilai US$ 1,7 miliar. Namun, uang itu belum bisa cair karena belum waktunya dan ada beberapa peraturan yang harus dibereskan. Mengingat cukup mendesak untuk membangun, Pertamina mengajukan pinjaman jangka pendek pada bank di Timur Tengah. Namun dalam perjalanannya, terjadi penyetopan pinjaman jangka panjang.

Akibatnya, Pertamina mengalami kesulitan keuangan. Pertamina belum sempat menyetorkan uang minyak Caltex ke kas negara sebesar US$ 200 juta. Meskipun menurut nota keuangan pemerintah yang dibacakan Menteri Ekuin Widjojo Nitisastro menyebutkan uang yang belum disetor mencapai US$ 859 juta. Maka, keadaan menjadi kacau dan orang bicara tentang apa yang disebut krisis Pertamina. Kemudian, lanjut Ibnu, terasa secara ramai-ramai bank-bank di Amerika dan Eropa menagih. “Saya tahu para teknokrat itu ada hubungannya dengan Bank Dunia, dengan Dana Moneter Internasional, dengan IGGI. Di belakang Bank Dunia dan sebagainya itu ada perusahaan minyak raksasa. Harap maklum bagaimana pengalaman saya menghadapi perusahaan minyak raksasa itu. Harap maklum usaha saya dari mulai menghilangkan konsesi-konsesi itu sampai meletakkan kontrak bagi hasil,” papar Ibnu Sutowo. Selain bercerita tentang krisis Pertamina, ia juga bertutur tentang penggabungan Pertamina dengan Permina. Menurut Ibnu, penyatuan itu bukan hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri khususnya kerja sama dengan kontraktor asing.

Dalam biografinya itu Ibnu juga menuturkan kisah lucu ketika sebagai dokter bertugas di Belitang. Di Belitang itu, orang mempunyai kebiasaan minta disuntik ketika sakit, meski itu hanya sakit batuk. Ia pun tak kuasa menolak. “Saya bilang, suntikan ini hebat. Tapi kalau tidak makan obat batuk bisa jadi racun. Obatnya mesti dimakan. Mesti. Mereka mengikuti petunjuk saya. Sebenarnya pasien itu sembuh karena obat batuk,” tutur Ibnu Sutowo.

Walhasil, biografi Ibnu Sutowo memang penuh warna. Bertutur tentang kehidupannya di masa kecil yang suka berkelahi hingga bagaimana dirinya dicaci maki ketika duduk sebagai orang nomor satu di Pertamina. (Sumber: Sinar Harapan Online)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here