Writing To Celebrate Life

SapaFenty

Menulis untuk merayakan kehidupan. Ketika menulis, Fenty menyerap energi-energi positif dari para tokoh dan narasumber yang diwawancarainya dan menumpahkannya menjadi kisah yang menginspirasi. Writing To Celebrate Life.

Fenty Effendy lahir dan menamatkan pendidikan dasar di SD 009 Jalan Cempaka, Pekanbaru. Masa remajanya dihabiskan di Padang, bersekolah di SMP 7 dan SMA 2, sambil menikmati sudut-sudut kota yang bersih karena kepemimpinan Walikota kala itu, Syahrul Ujud.

Imajinasi pertamanya adalah menulis cerpen karena setiap pagi dari jendela rumahnya, ia menyaksikan kapal-kapal kecil melintas, kemudian menghilang di kelokan sungai. Fenty membayangkan awak kapal itu adalah para penyelundup atau perompak yang menculik anak orang kaya. Alih-alih fiksi misteri, khayalannya yang dimuat koran lokal adalah tentang cinta. Sosok pertama yang ditulisnya adalah Dian Arsyadi, temannya di SMA 2 Padang yang gila bola.

Ketekunan menulis berlanjut ketika kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU). Fenty membawa serta mesin tik Olympia milik ayahnya, mendesain majalah kampus VOICI, dan menjadi pemimpin redaksinya. Sempat bekerja sebagai penulis naskah iklan di Medan, ia kemudian hijrah ke Jakarta menjadi kru program AsiaBagus! dan Kuis Rahasia Keluarga di RCTI (1997).

Karir sebagai wartawan dimulai di majalah FORUM Keadilan (1998) hingga posisi redaktur. Ketika Metro TV berdiri, Fenty bergabung dengan stasiun televisi berita pertama di Indonesia itu (2001), dari reporter, field producer, koordinator liputan, hingga  produser – utamanya menangani program talkshow.

Minat terhadap jurnalistik dan komunikasi menghantarkannya menyelesaikan S2 Ilmu Komunikasi di FISIP Universitas Indonesia pada tahun 2007.

Fenty kemudian hijrah ke antv (2006), lalu Karni Ilyas mengajaknya bergabung ke stasiun televisi berita nomor satu, tvOne (2011), untuk membenahi Indonesia Lawyers Club (ILC) – pemenang Panasonic Gobel Award 2013 untuk kategori program bincang-bincang berita terfavorit.

*

Rintisan karir sebagai penulis biografi dimulai tahun 2004 lewat buku “Agum Gumelar-Jenderal Bersenjata Nurani” (bersama Retno Kustiati) dan proses tersebut berlanjut seiring dengan waktu.

Termasuk ketika menyunting naskah buku “Ibnu Sutowo-Saatnya Saya Bercerita!” karya Ramadhan K.H. (2008, bersama Imelda Sari, Elprisdat, dan Nurul Amin) dan saat membuat buku “Mereka Bicara JK” yang berisi kumpulan pengalaman 64 narasumber tentang sosok Jusuf Kalla.

“Mereka Bicara JK” (2009, bersama Imelda Sari, Elprisdat, dan Nurul Amin) tercatat sebagai buku laris dan menjadi referensi bila membicarakan kepemimpinan Wakil Presiden RI 2004-2009, H.M. Jusuf Kalla.

Buku lain yang dikerjakan Fenty adalah “Catatan Perjalanan HIPMI 1972 – 2011″ (2011, bersama Neneng Herbawati). Ia juga menyunting buku mantan presiden direktur PT Freeport Indonesia, “Adrianto Machribie-Setia Kepada Integritas dan Profesionalitas” (2011).

Fenty Effendy banyak belajar dari cara kerja dan proses kreatif wartawan The Washington Post, David Maraniss. Selama tiga bulan di tahun 2011 Fenty melakukan riset dan mewawancarai puluhan orang Indonesia yang mengenal Obama dan ibunya, sebagai bahan jurnalis pemenang Pulitzer itu untuk menulis buku “Barack Obama. The Story” (2012).

Tahun 2012, ia menulis biografi “Karni Ilyas-Lahir Untuk Berita. 40 Tahun Menjadi Wartawan” yang tercatat sebagai buku laris. Kutipan Karni di buku itu menjadi mantra yang menginspirasi banyak anak muda : “Bermimpilah, karena bermimpi itu halal. Tapi ada syaratnya, yaitu kerja keras, kerja keras, dan kerja keras.”

Selanjutnya pendiri National Press Club of Indonesia (NPCI) ini menulis “Titik Balik BIMA ARYA” (Juni, 2013) yang kini dipajang di rak buku laris menyusul terpilihnya sang tokoh sebagai Walikota Bogor (2014-2019).

“Saya minta ceritanya dibuat ringan karena buku Karni Ilyas Lahir Untuk Berita itu kan bacaan yang berat dan tebal. Ternyata Fenty bisa menuliskan kisah saya menjadi ringan dan mengalir.” – Bima Arya Sugiarto di acara Penulis Bicara radio Sindo Trijaya 104,6 FM (Minggu, 6 Oktober 2013).

“Mengalir, mudah dimengerti, dan menginspirasi,” menjadi kata kunci untuk buku terbaru Fenty berjudul “Ahmad Sahroni. Anak Priok Meraih Mimpi” (September, 2013). Komentar itu dilontarkan mantan Panglima Armada Barat, Laksamana Madya Purnawirawan TNI Djoko Sumaryono, yang mengenal baik sosok anak muda yang kisah hidupnya dibukukan.

Dengan alasan karya-karyanya mampu menyihir pembaca, seorang teman berpesan agar ia berhati-hati memilih tokoh yang akan ditulis. Pesan ini penuh makna karena Fenty akan bertekun menulis biografi dan melepas pekerjaannya sebagai Talkshow Manager  di tvOne (2011-2013). FE14x14

Hubungi saya disini

* indicates required field

talk@fentyeffendy.com