Tersihir Lumpur Pacu Jawi

2
65

 

Ketika udara terasa makin terik, keriuhan di Dusun Sibinuang, Kecamatan Sungai Tarab, Batusangkar, Sumbar, justru menjadi-jadi. Di bawah tenda hijau, pemusik menyelaraskan suara perangkat musik tradisional talempong untuk menyambut Bupati Tanah Datar, M. Shodiq Pasadigoe, yang datang menutup helat final pacu jawi (jawi = sapi dalam bahasa Minang). Berjarak tiga meter dari tenda, ratusan lapak pedagang tradisional berjejer menawarkan makanan dan minuman. Saya menemukan jajanan tradisional yang sudah langka: pensi— rebusan kerang kecil yang diberi bumbu tumisan seledri, daun bawang, dan lengkuas.

Sambil menikmati gurihnya pensi, saya mengulang kaji dari Ketua Persatuan Pacu Jawi Batusangkar, Fahmi, bahwa pacu jawi adalah tradisi khas Batusangkar yang sudah berjalan ratusan tahun. Hampir tiap pekan, kecuali di bulan puasa, perlombaan digelar dan biasanya berpindah dari satu kampung ke kampung yang lain. Transaksi jual beli jawi sering terjadi usai pacuan, makanya dulu kegiatan ini namanya “balai-balai”. Tak jarang helat ini jadi tempat mencari jodoh juga sehingga disebut “balai jodoh”.

Fahmi mengklaim, pacu jawi di kampungnya jauh lebih sulit dari karapan sapi di Madura. Di mana letak sulitnya? Pertanyaan saya terjawab waktu perlombaan dimulai.

Mengendalikan sapi saja sudah susah, apalagi di tengah ratusan orang yang ramai berteriak-teriak. Seperti manusia, sapi pun ada yang gampang panik sehingga kabur dan harus dikejar. Kadang saking liarnya, seekor sapi harus dijaga enam orang dewasa.

Setelah urusan demam panggung lewat, sapi-sapi itu pun dilepas sepasang demi sepasang, bukan sekaligus lima atau enam pasang seperti karapan sapi. Sebab yang diukur bukanlah kecepatan, melainkan sejauh mana duet sapi itu bisa berlari lurus ke garis akhir dan apakah moncong kedua sapi tersebut sejajar pertanda kedua sapi itu kompak. Atau, kalaupun tak sejajar, selisihnya tipis. “Seperti panjang jari telunjuk ketika disandingkan dengan jari tengah,” begitu perumpamaan yang dipakai Uda Fahmi.

Perbedaan kedua, di Madura dua sapi disatukan dengan bajak kayu yang disebut “keleles” dan joki berdiri di tengahnya sambil memainkan pecut untuk mempercepat lari binatang pembajak sawah tersebut. Di Batusangkar, masing-masing sapi mengenakan tali bajak sendiri-sendiri dan joki-lah yang menyatukan kedua bajak itu dengan kedua kakinya. Kalau sapi terlalu liar, sang joki gampang sekali terlempar. Tidak ada cara lain untuk menjaga keseimbangan dan mengendalikan hewan pembajak tersebut selain memegang ekornya. Di sinilah sulitnya jadi joki pacu jawi.

Ditambah pula, tak ada cambuk untuk mempercepat lari sapi. Sebagai gantinya, para joki harus menggigit ekor sapi. Tak jarang, sapinya baru berlari beberapa meter, joki sudah kehilangan pegangan sehingga tersungkur masuk lumpur. Ya, pacu jawi Batusangkar memang diselenggarakan di petak sawah bekas panen dengan lumpur setinggi lutut orang dewasa. Berbeda dengan karapan sapi Madura yang berlangsung di lahan kering.

Pacu Jawi

Mulanya saya heran mengapa tidak ada tempat khusus penonton, entah tenda atau panggung beratap. Kok malah harus berdiri di sisi kiri kanan pematang sawah. Ternyata di situlah nikmatnya! Sebab, ketika duet sapi itu dilepas, ada rasa deg-degan akankah mereka berlari lurus atau menerjang tanah tempat anda berada. Kocar-kacir penonton jadi hiburan tersendiri. Teriakan joki mengarahkan sapinya terasa magis di siang terik yang membakar kulit.

Buat penyuka fotografi seperti saya, bukan cipratan lumpur yang ditakutkan tapi bagaimana mengamankan kamera dan lensa tele yang masih baru, he-he-he. Percaya atau tidak, kita seperti tersihir melihat duet sapi itu berlari. Kalau larinya lurus, mereka hanya butuh waktu sepuluh detik dari garis awal sampai garis akhir.

Menyaksikan indahnya pacu jawi dalam bingkai teknologi, saya jadi mafhum mengapa foto perhelatan ini pernah memenangkan penghargaan internasional. Ragam ekspresi para pejoki yang belepotan lumpur itu menarik sekali! Pada wajah mereka terpancar jiwa pemberani dan percaya diri yang tinggi. Saya bertanya-tanya, kapan piala Presiden RI juga mampir di pacu jawi Batusangkar—seperti yang diberikan Presiden kepada karapan sapi Madura bulan Oktober 2010? Buat penyelenggara pacu jawi, saya hanya ingin berbisik: mungkin nggak pacuan dibuat pagi hari atau sore sekalian? Jangan di tengah siang yang garang. Panasnya, ampun!!

*Dimuat di harian Jurnal Nasional, Minggu 16 Januari 2011, halaman 16.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here