Testimoni Pembaca (1)

0
33
Resensi Buku Karni Ilyas Lahir Untuk Berita di Kompas. Minggu, 24 Maret 2013
Resensi Buku Karni Ilyas Lahir Untuk Berita di Kompas. Minggu, 24 Maret 2013

“Membaca buku ini, Anda harus bersiap-siap menghadapi kenyataan sekaligus pertanyaan: ini buku tentang jurnalistik di mana Karni mengalami jatuh-bangun di dalamnya, atau tentang hukum di mana Karni sangat menguasainya melebihi para pakar dan praktisi hukum?” Pepih Nugraha/ wartawan Kompas.

“Tadinya saya pikir ini buku narsis, penuh puja-puji tentang tokoh utamanya. Ternyata saya keliru. Karni Ilyas Lahir Untuk Berita berisi banyak pembelajaran untuk wartawan.” – Agustinus Edy Kristanto/ pemimpin redaksi Gresnews.com.

“Buku ini menggambarkan bagaimana SEHARUSNYA seorang wartawan bekerja, dan bagaimana seorang anak manusia bekerja keras menggapai mimpi. Tidak ada yang instan, tidak ada yang mudah. Buku ini bacaan wajib bagi para jurnalis muda dan setiap orang yang bercita-cita menjadi wartawan.” – Bayu Sutiyono/ mantan presenter Liputan 6 SCTV.

I’m done reading the whole 369 pages, not missing a comma and a period. Excellent work. A must-read for journos today. See how lazy and spoiled they become *bow.” – Emmy Fitri/ mantan wartawati The Jakarta Post dan The Jakarta Globe.    

Proficiat Fenty! Saya beli dan sudah baca. Buku yang bagus dan wajib dibaca oleh mereka yang berprofesi di media, baik cetak maupun elektronik.” – Frans Padak Demon/ direktur Voice of America (VOA) Indonesia.

“Saya suka buku Karni Ilyas Lahir Untuk Berita karena artikelnya pendek-pendek, jadi membacanya cepat selesai. Bahasanya juga sangat enak, lugas, sederhana, dan mengena. Kisah Karni dalam buku ini akan membuat semangat berkobar lagi, kerja itu nggak semata business as usual. Untuk menjadi nomor satu, orang itu harus ekstrim. Karena saya tidak lagi di dunia berita, jadi dorongan dari buku ini adalah untuk selalu mengerjakan yang terbaik.” Grace Natalie/ mantan presenter tvOne/ CEO Syaiful Mujani Research & Consulting.

“Kita tahu Karni Ilyas telah mengubah pandangan masyarakat bahwa presenter harus bersuara bagus dan ganteng dengan dandanan klimis kayak bintang sinetron. Penulis buku ini berhasil mengajak pembaca untuk mengenali dan “menikmati” pelbagai aspek kehidupan Karni sejak dari kampung, saat dia bercita-cita menjadi wartawan terkenal.” – Ilham Bintang/ pemimpin redaksi tabloid Cek & Ricek.

Karni Ilyas Lahir Untuk Berita itu buku yang bagus untuk para wartawan dan calon wartawan. Ketika saya membacanya, yang terbayang adalah usaha penulisnya melengkapi detil data dan latar belakang berbagai peristiwa yang diliput oleh Karni Ilyas. Pastilah itu sebuah kerja keras!” – Nasihin Masa/ pemimpin redaksi surat kabar Republika.

“Saya membaca buku itu sampai tamat. Tulisannya enak, mengalir. Ceritanya pun menarik. Penulis berhasil menangkap karakter Karni Ilyas. Ada satu cerita yang membuat saya ketawa terbahak-bahak, yaitu penggambaran soal pemuda Balingka di Bab I: Merupakan pemandangan lazim hingga tahun 1980an melihat pemuda Balingka keluar rumah siang-siang memakai sarung selilit tubuhnya. Kini, cuaca terik menyengat bisa muncul sebelum tengah hari. Warga Balingka menyimpan gurauan mengenai hal ini: pemanasan global telah melenyapkan para pemuda “perkasa”. “Perkasa” di sini maksudnya adalah “penggemar kain sarung”. Itu asli lucu!” – Prof. Hamdi Muluk/ guru besar Fakultas Psikologi UI.

Seorang penulis yang handal mampu membuat sebuah biografi “bersinar”. Sementara seorang tokoh dengan kisah hidup yang kaya mampu menghidupkan cerita dan memudahkan kerja sang penulis. Fenty dan Karni Ilyas adalah paduan sempurna antara bahan yang lezat dan koki yang handal. Buku bacaan wajib untuk siapa saja yang ingin belajar tentang arti kerja keras.” – Yayu Yuniar/ wartawati The Wallstreet Journal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here