Tulis Saja Semua Dulu

0
97

 

Satu hal yang paling sering ditanyakan kepada saya usai acara diskusi atau bedah buku adalah tentang penulisan.

“Buku saya enggak kelar-kelar. Halaman satuuu terus. Bagaimana supaya ceritanya bisa mengalir?”

“Saya banyak bahan tentang pengalaman sebagai wartawan lalu konsultan pilkada, tapi bingung, apa harus diceritakan semua? Saya khawatir akan ada yang tersinggung tapi ini penting.”

“Saya cuma ingin menulis memoar pribadi tapi kok susah sekali…”

“Saya” dan “tapi” tiada henti.  🙂

Begini. Mulailah dari hal paling menarik menurutmu, atau tentang apa yang mengganggu pikiranmu. Tak usah berpikir “satu alinea satu pokok pikiran” seperti kata pak guru di sekolahan dulu, atau pantaskah ditulis, dan lain-lain. Itu teknis. Gelontorkan saja semuanya sampai kepala atau dada plong.

Setelah selesai, bacalah kembali tulisan itu sebagai seorang awam. Apakah anda mengerti apa yang tertulis di situ? Apakah alur ceritanya sudah mengalir runtut dan enak dibaca, atau melompat-lompat seperti kodok?

Kalau iya, perbaiki. Baca lagi. Ingat, membacanya sebagai awam. Keterangan apa yang kurang? Tambahkan. Ada beberapa kalimat yang maksudnya sama? Kepanjangan? Pangkas.

Tak ada cerita yang langsung sempurna.
Apalagi tulisan pertama.

Apakah harus seketika itu juga memperbaikinya? Bisa iya, bisa tidak, tergantung kesiapan anda mengambil jarak dalam membaca tulisan tersebut. Dari tulisan pertama ke membaca pertama mungkin bisa dalam hitungan menit saja. Pada tulisan yang sudah anda revisi dua atau tiga kali, barangkali butuh waktu lebih lama.

Bisa jadi anda tidak menemukan ada yang harus diperbaiki. Bisa saja. Coba metode kedua. Pindahkan fokus pikiran ke hal-hal lain selama 5-10 menit, mendengarkan musik atau menelpon teman, lalu kembali ke tulisan tadi. Seorang penulis biasanya juga seorang pembaca yang cekatan menemukan kekurangan. Dan sebaiknya ia juga memiliki sensor diri atau kepekaan pada apa yang ingin diungkapkannya ke publik (self cencorship).

Sambil merapikan kerja kata itu, ingatlah rambu-rambu: Tidak boleh ada kata yang sama dalam satu alinea; pakailah kalimat aktif; gunakan kata ganti orang supaya alinea anda tidak membosankan; cari atribusi lain sehingga nama seseorang tidak muncul berkali-kali. Kelompokkan topik-topiknya, dari sana susunlah garis besar penulisan (outline). Sampai di sini, separuh persoalan menulis terselesaikan. Anda tinggal melanjutkan pengembangan tulisan sesuai alur yang sudah ada.

Jadi, tulis saja semuanya dulu. Kalau tidak mulai, bagaimana anda tahu lebih dan kurangnya tulisan anda? Menulis itu latihan olah pikir dan olah kata. Semakin sering, semakin mahir. Tak ada resep lain.

Masih terseok-seok? Hmm, barangkali anda kekurangan referensi.

Sebab menulis itu sesungguhnya pekerjaan di ujung,
yang terdepan ialah meriset.  

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here