38 Narasumber dan 9 Laporan Riset

0
54

Saya baru berhenti dari antv ketika tawaran mengerjakan proyek buku “Barack Obama. The Story” datang dari wartawan senior The Washington Post, David Maraniss. Wartawati The Wallstreet Journal, Yayu Yuniar — yang tahu usaha saya dalam menulis buku tentang Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI 2004-2009 (“Mereka Bicara JK”) — memberikan rekomendasi kepadanya. Saya akan bekerja dua bulan untuk David. Ia mengelompokkan kebutuhan bahannya dalam tiga bagian: Keluarga Martodihardjo, kehidupan Ann, Lolo, dan Obama, dan kehidupan Ann pasca Obama kembali ke Hawaii.

Inilah sebagian isi memo pertama yang ditulis David Maraniss pada 14 Desember 2010:

I have accumulated a number of names for you to interview regarding those school days. Finding them should not be too difficult. And of course I would love for you to find more from these contacts. The questions would again be of a more detailed nature. I would like description of the schools, descriptions of the neighborhoods where Barry lived, what teachers remember about him as student and little boy, what they would do in school each day, in terms of subject matter, how courses were taught, what they learned beyond reading and math, whether any history or social studies taught, how religion was infused into school, if at all. Then what his peers remember about him. Where they played. What they played. What they thought of Barry. Did they know he was an African American. What did he look like. What did he sound like. How quickly and well did he learn the language. What they remember about his parents and his houses. Any little details.

Apa yang pertama kali saya kerjakan? Tentu saja memverifikasi nama teman sekolah, nama teman bermain, dan nama guru-guru yang dikirimkan David. Siapa yang benar-benar berinteraksi dengannya, dan bukan sekedar tahu atau sering melihat dia bermain-main di pekarangan sekolah. Untuk itu diperlukan detil seperti: di mana Obama duduk, siapa teman sebangkunya, siapa yang duduk berdekatan dengannya, siapa yang bermain dengannya saat jam istirahat, dan sebagainya. Ketika verifikasi selesai dilakukan, 7 di antara nama yang disebut David terpaksa dicoret meskipun media massa di sini banyak mengutip cerita mereka.

Mewawancarai teman-teman masa kecil Obama ini susah-susah mudah. Sebagian dari mereka merasa tidak ada lagi cerita yang tersisa. Semuanya sudah dibagikan kepada para wartawan pada tahun 2008 – ketika Obama dielu-elukan sebagai calon presiden AS. Ada yang lebih tertarik untuk membahas hubungan Indonesia dan Amerika Serikat pasca Obama terpilih sebagai presiden. Tapi kebanyakan harapan mereka sama: bisa bertemu dan bernostalgia dengan Obama. “Bila perlu kami berangkat ke DC deh. Mungkin ketemuan di sana lebih gampang ya? Kalau gua ketemu dia, gua yakin dia masih ingat semua,” kata salah seorang teman kecil Obama.

Kesulitan juga menghadang ketika hendak mengumpulkan latar belakang keluarga Martodihardjo. David Maraniss memberikan dua nama keponakan Lolo Soetoro, lengkap dengan nomor telepon dan alamat email mereka, tapi keduanya tidak merespons balik dalam waktu yang cukup lama. Haryo Soetendro – karena kesibukannya bolak-balik keluar negeri – baru bisa saya wawancara di ujung tenggang waktu yang diberikan David. Itupun setelah saya meminta seorang tokoh untuk meyakinkannya agar mau menerima saya. Belakangan terungkap kalau dia kapok karena koran Inggris memelintir keterangannya.

Usaha saya untuk menemukan lebih jauh lagi informasi tentang Lolo Soetoro dan Ann Dunham mengantarkan saya bertemu Bambang Utomo. Kakeknya, Sumodihardjo, adalah kakak Martodihardjo. Orangtuanya, Probotjono, adalah atasan Lolo di Dinas Topografi. Lolo tinggal di rumah mereka di Gandaria sebelum berangkat ke AS. Kepala Dinas Topografi waktu itu adalah Soetardjo Soerjosoemarno, ayahnya Japto Soerjosoemarno – tokoh Pemuda Pancasila.

Total dalam waktu dua bulan ada 38 narasumber yang saya wawancarai, plus sembilan laporan riset tentang Jakarta tempo dulu (dua kali), Ganesha Society, suasana di Menteng Dalam, paviliun Menteng, keberadaan Taman Amir Hamzah, Yogyakarta di masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Jayeng Prawiran, kematian Martodihardjo, dan UGM ketika Lolo Soetoro menjadi mahasiswa di sana.

Semua itu menjadi bahan David Maraniss dalam menulis biografi “Barack Obama. The Story” setebal 644 halaman yang diterbitkan bulan Juni 2012. Episode kehidupan Obama di Indonesia dimulai dari bab 8 yang berjudul Orbits, ketika David memasukkan profil Lolo Soetoro:

“He was the first member of his family to visit America, leaving behind a girlfriend who was the daughter of one of his bosses at the mapping agency, and taking with him a newfound talent in ballroom dancing, which he had persuaded one of his uncle to teach him before he left. …” (“Barack Obama. The Story” halaman 195).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here