Berburu Duka Cita Martodihardjo (2)

0
41

Jakarta. Senin, 14 Februari 2011. Saya berhasil mewawancarai Heri Purnomo, satu-satunya putera Soepoyo – anak tertua Martodihardjo. Menemukan rumahnya di pelosok Bekasi merupakan perjuangan tersendiri karena nomor rumah di sana tidak beraturan. Bahkan, nomor rumah Heri sendiri tidak ada. Ridlwan, wartawan Jawa Pos yang pernah mewawancarai Heri, hanya memberi ancar-ancar bentuk rumah dan letaknya yang di belokan jalan padahal jalan itu banyak belokannya.

Saya sampai tiga kali bolak-balik di jalan yang sama, bertanya kepada tukang ojek dan sopir angkot yang ngetem, dan mengetuk banyak pintu rumah untuk menanyakan apakah mereka mengenal Heri. Bahwa pada akhirnya saya kembali mengetuk sebuah rumah putih besar bertingkat dan kelihatan tak berpenghuni, karena itulah satu-satunya rumah di pengkolan jalan yang penghuninya belum berhasil saya temui. Rumah itu berpagar besi tinggi dengan anjing yang menggonggong ganas dari dalam pekarangan. Tidak ada bell. Saya berdiri di situ sampai gonggongan hewan tersebut mencapai kebisingan tertentu dan sukses membuat penghuninya keluar. Dialah Heri yang saya cari.

Heri mengonfirmasi ayahnya meninggal karena kanker pada tahun 1955. Tapi soal Martodihardjo, eyang kakungnya, dia tidak punya informasi apa-apa. Jalan saya buntu lagi.

Jakarta. Kamis, 17 Februari 2011. Saya masih ingat sekali hari itu. Saya bangun tidur dengan sedikit malas. Perasaan jengkel dan letih – sejak dari Yogya – karena gagal mendapatkan bukti tertulis tentang meninggalnya Martodihardjo masih mengganggu. Tempat-tempat yang secara logika harusnya menyediakan data yang saya butuhkan ternyata tak bisa diandalkan. Tulisan di batu nisan tidak cukup buat David Maraniss.

Ada satu lagi sebenarnya yang mengganggu pikiran saya. Pada Bab I rancangan buku biografi Barack Obama yang dikirimkan David, ada cerita tentang Ruth Armour Dunham, ibu Stanley Dunham yang meninggal bunuh diri pada tahun 1926 dan beritanya ada di koran lokal di Topeka, Kansas. Masa’ saya tidak bisa mendapatkan informasi serupa?

Lalu terlintas begitu saja satu tempat yang dari dulu ingin saya kunjungi: Perpustakaan Nasional (Perpusnas) di jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. Kebetulan David membutuhkan pengayaan narasi tentang Jakarta tahun 1967-1970an. ‘Mari pergi, siapa tahu koleksi di sana lebih lengkap’, begitu saya menyemangati diri sendiri.

Satu demi satu bundelan koran Kedaulatan Rakyat (KR) di lantai enam Perpusnas saya pelototi. Tak semua pencari arsip mengembalikan dan menumpuknya sesuai urutan bulan dan tahun. Jadi saya mesti sabar dan teliti menyisir satu demi satu koleksi surat kabar lama tersebut. Hasilnya nihil. ‘Coba cari ke bagian mikrofilm’, kata si petugas.

Turunlah saya ke lantai tiga. Informasi tentang mikro film koran-koran lama tertulis di dalam beberapa buku catatan. Jadi saya harus mengecek dulu apakah koran yang saya cari ada, baru bisa minta ke petugas untuk mengambilkannya. Alhamdulillah, Kedaulatan Rakyat tahun 1951 masih tersimpan. Tidak lengkap semua bulan, tapi Juli ada. Dengan dada berdebar-debar, saya menunggu petugas muncul kembali dengan gulungan mikrofilm.

Walau batu nisan Martodihardjo berpahat tanggal 29 Juli 1951 tapi saya tidak mau ambil resiko ada edisi yang terlewat. Karena itu saya mulai dari awal bulan Juli 1951. Pelan, pelan, sambil memutar tuas peralatan untuk membacanya, mata saya berpindah dari atas ke bawah gulungan koran lama tersebut. KR masa itu masih empat halaman. Namun sudah habis 88 halaman koran saya pelototi, hasilnya nihil. Ditambah pula tanggal 28 dan 29 Juli 1951 jatuh pada hari Sabtu sementara KR saat itu tidak terbit pada akhir pekan.

Saya pindahkan pencarian ke bulan Agustus. Lagi, 88 halaman KR saya sigi satu demi satu. Yang saya cari tetap tidak ketemu. ‘Harus dicoba sekali lagi!’, saya berseru kepada diri sendiri. Saya tarik nafas, mencoba kembali dari awal bulan Juli. Tangan saya memutar tuas pelan-pelan sembari berdoa. Dan saya nyaris tak percaya ketika membaca pengumuman duka cita di halaman paling belakang Kedaulatan Rakyat terakhir di bulan Juli.

SANGAT BERSEDIH HATI

Atas ditinggalkannja dengan tiba2 pd tgl 28 Djuli 1951 oleh Bapak kita Kepala Djawatan Pertambangan Tjab. Jogjakarta:

M. Soewarno Martodihardjo

Setelah l.k. 40th membaktikan seluruh djiwa raganja menuju pertumbuhan dunia pertambangan di Indonesia. Semoga Arwahnja diterima oleh Tuhan, dharma-baktinja membekas dan menjadi tjermin jang baik bagi Angkatan baru jang ditinggalkan.

Djawatan Pertambangan Bintaran Lor 22 Jogja [1]

Iklan itu kecil sekali, hanya dua kolom (10 sentimeter) kali 5 sentimeter. Pantas saja terlewat! Dengan tangan gemetar dan mata berkaca-kaca, saya memotret mikrofilm itu. Pandangan mulai berkunang-kunang. Saya tersadar belum makan siang. Dan hari sudah jam empat sore.

Saya agak emosional waktu menulis laporan untuk David malam itu:

Pak David, I was so happy today that I finally found something that I thought I was never going to find. Actually I planned to go to the National Archive building today to look for the articles about Jakarta in 1967-1970’s. Then suddenly I was just thinking if there was any possibility to find anything about Martodihardjo or Djoeminah from there. And yes, bull’s-eye!!!! I found an announcement on the newspaper of July 31, 1951 that stated the date and causal of Martodihardjo’s death. I went to six institutions in Yogyakarta, four of them were government institutions, to find anything or record of Martodihardjo but there was none. I never thought that I would find it here in Jakarta. I know that at some point the administration at that era was rather a mess. Lucky for me, it was a good mess at the end.

Kamis malam itu juga David membalas email saya:

YES! Great job, Fenty. You’re worth for every penny ! I had absolute confidence that you would doggedly pursue until you found the bone :) I think we can safely conclude he did not die in revolution and most likely did die putting up curtain. I love to puncture myths, thanks much! David.

Di dalam buku “Barack Obama. The Story”, mitos Martodihardjo itu dibahas di halaman 227-228:

Her husband, Martodihardjo, had died on July 28, 1951. Later accounts of the family history, including those in Dreams from My Father and various profiles and biographies of the future American president, would state as accepted fact that Martodihardjo was killed while fighting Dutch troops during the final struggle for independence, known in Indonesia as the Dutch Aggression, that took place in the late 1940s. in the memoir and the other accounts, his tragic death was said to be compounded by more drama, with the Dutch burning down the family home, forcing the mother and children to scurry to safety and scavenge to survive.

The story is wrong, a concocted myth in almost all respects. Not only did Martodihardjo die two years after the struggle had ended, but he died a most domestic death, far from any battlefield. He fell off a chair at his home while trying to hang drapes, presumably suffering a heart attack. A small notice of his death appeared on page 4 of the Kedaulatan Rakyat newspaper a few days later, and while it did not list the cause of death, the wording belies the claim that he died in battle. …

… The oft-told fable about Martodihardjo dying in the fight against the Dutch also included the notion that Lolo’s oldest brother, Soepoyo, suffered a martyr’s death as well. That is another fiction. He died of cancer in 1955.

Kelak kisah memastikan meninggalnya Martodihardjo ini sampai ke telinga Karni Ilyas dan menjadi salah satu pertimbangannya ketika meminta saya menulis 40 tahun perjalanan karirnya sebagai wartawan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here