Hukum Dari Mata Sang Pemburu

0
42

“Artinya bagi saya setiap berita harus diburu untuk mendapatkannya. Tidak ada istilah jauh, hujan, atau sulit narasumbernya. Seorang reporter wajib ketemu narasumber yang ditugaskan kepadanya. Reporter hanya boleh pulang, bila narasumber menolak memberikan informasi atau mengusir si wartawan. Bukan berarti tugas si wartawan selesai.”

Karni Ilyas, saat ini pemimpin redaksi tvOne, mengatakan tamsil itu dalam pengantar buku “Karni Ilyas Lahir Untuk Berita” yang diluncurkan di Jakarta Theater, Rabu (17/10). Buku itu ditulis oleh Fenty Effendy, pendiri National Press Club of Indonesia (NPCI), yang juga reporter untuk buku biografi “Barack  Obama. The Story”. Terbitnya buku itu sekaligus menandai 40 tahun karier jurnalistik Karni.

Didaulat untuk berbicara mengenai substansi buku tersebut dari atas panggung, Karni membolak-balik memori hadirin mengenai sejumlah peristiwa hukum yang terjadi selama kurun empat dekade silam di tanah air, sembari sesekali menjawab pertanyaan “eksistensial”: mengapa Anda menjadi wartawan?

“Karena saya ingin terkenal,” kata Karni. Konteks jawaban itu adalah ketika Karni masih duduk di bangku sekolah dan dilontarkan pertanyaan oleh sepupunya dari Jakarta, kenapa ingin jadi wartawan.

Mengaku terinspirasi oleh sepak terjang sejumlah wartawan hebat asal Sumatera Barat, salah satunya (alm) Rosihan Anwar, Karni sejak kecil bercita-cita jadi wartawan. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia 1984 itu mengatakan dalam bukunya, “Pemburu berita, itulah akhirnya hobi saya.”

Karier jurnalistik Karni dilakoni di sejumlah media, antara lain, Suara Karya, Tempo, Forum Keadilan, SCTV, ANTV, dan tvOne. Selama itu juga, isu hukum merupakan bidang liputan yang sebagian besar digarap oleh Presiden Indonesia Lawyers Club (ILC) itu. Tak heran bila membaca “Karni Ilyas Lahir Untuk Berita” serasa menonton sebuah kilas balik dinamika peristiwa hukum Indonesia berikut sisi lain di balik peristiwa hukum tersebut. Sejumlah hasil liputan Karni yang tersebar di berbagai media mendorong terjadinya perubahan sistem hukum nasional pun menjadi cermin sejarah jurnalisme di Indonesia.

Melalui liputan Kisah Siti Nurbaya 1973, Karni mengangkat sikap moderat Ketua Majelis Ulama Indonesia (saat itu) Prof. Dr. Hamka yang dimintai pendapat terkait perkara Syarifa Syifa, gadis berusia 15 tahun, yang dipaksa kawin cerai dan memasukkan pisau silet ke dalam mulut dan menelannya, sesaat setelah hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara/Timur menghukum kekasihnya 2,5 tahun penjara karena dituduh membawa kabur Syifa, yang saat itu telah menikah dengan lelaki lain bernama Tohir.

“Kalau saya masih punya anak laki-laki yang belum kawin, boleh saya ambil Syarifa jadi menantu,” kata Karni menirukan Hamka. Karni ketika itu menuliskan kritik Hamka terhadap putusan Pengadilan Negeri Agama Jakarta yang menyatakan perkawinan Syarifa dengan Tohir sah.

Pada 1977, Karni juga terlibat dalam polemik mengenai trial by the press, ketika meliput Munas Persatuan Sarjana Hukum Indonesia di Lembang, Jawa Barat. Ketika itu pengacara menuding pers telah menginjak hak asasi manusia lewat pemberitaan yang selalu memvonis bersalah seseorang yang masih berstatus tertuduh. Karni berpendapat yang dirugikan dengan larangan memberitakan suatu perkara justru masyarakat pencari keadilan.

“Pemberitaan pers adalah bagian dari akuntabilitas aparatur penyelenggara negara kepada publik. Terlebih lagi, persidangan yang terbuka untuk umum itu ada diatur dalam Herzien Inlandsch Reglement (HIR),” kata Karni.

Karni juga memberikan perspektif pada kasus Sengkon-Karta dan lahirnya upaya hukum Peninjauan Kembali (PK). Kasus itu membuka mata banyak pihak tentang perlunya upaya hukum untuk memperbaiki kesalahan fatal dalam proses penegakan hukum. Sengkon-Karta, yang sudah menjadi terpidana, tidak bisa membela diri ke mahkamah yang lebih tinggi karena hak mereka untuk mengajukan upaya hukum sudah kadaluwarsa.

Dalam praktiknya kemudian, Karni mencatat, penerapan PK sudah jauh bergeser dari maksud dilahirkannya lembaga PK itu oleh Mahkamah Agung, yang dipicu kasus Sengkon-Karta, meskipun MA jugalah yang membuka pintu ketika menerima PK yang diajukan oleh jaksa dalam kasus penghasutan massa oleh Mukhtar Pakpahan pada 1994.

“PK ini disalahgunakan oleh Kejaksaan. Sekarang kalau jaksa tidak puas dengan putusan hakim, mengajukan PK. Orang yang dihukum juga begitu. PK itu tidak untuk semua kasus, hanya pada kasus-kasus di mana ditemukan bukti baru bahwa orang itu tidak bersalah. Itulah namanya Novum. Jaksa itu tidak boleh mengajukan PK karena prinsip hukum itu melindungi orang yang tidak bersalah. Di Belanda pun, negeri tempat peraturan itu berasal, tidak demikian,” kata Karni.

Sebagai wartawan, Karni juga mencetak karya investigasi nan eksklusif. Beberapa di antaranya, liputan eksklusif di Tempo pada 12 Januari 1980 dan 16 Februari 1980 mengenai eksekusi mati Henky Tupanwael, terpidana kasus perampokan dan pembunuhan.

Liputan lainnya adalah wawancara eksklusif dengan Kartika Ratna Thahri di Jenewa di Tempo, 22 Februari 1992. Kartika adalah istri Achmad Thahir, asisten umum Dirut Pertamina Ibnu Sutowo, yang melejit namanya dalam kasus kepemilikan 19 rekening di Bank Sumitomo. Selama 12 tahun Kartika menjadi bulan-bulanan pemberitaan media. “Ke lubang semut pun akan saya kejar Kartika. Sebagai wartawan, terikat kewajiban untuk menyajikan berita berimbang,” kata Karni.

Acara peluncuran “Karni Ilyas Lahir Untuk Berita” juga menjadi cermin luasnya jaringan kerja Karni. Hadir antara lain Ketua KPK Abraham Samad, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, Jaksa Agung Basrief Arief, Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin, Ketua Dewan Pers Bagir Manan, mantan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh, mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie, mantan Pangab Wiranto, politisi Akbar Tanjung, para anggota DPR, wartawan senior, dan sebagainya.

Mahfud mengatakan, Karni memiliki kecerdikan dalam menggali informasi yang sebetulnya sudah dijaga sedemikian rupa.

Sementara Wiranto mengatakan, Karni telah menjaga amanat kebebasan pers yang dicetuskan pada saat reformasi 1998.

Apa kata istri tercinta Karni, Yulinas? “Yang paling saya ingat adalah suatu malam dia (Karni) bilang, cita-cita saya ingin membela orang kecil.”

Editor : Agustinus Edy Kristianto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here