Karni Ilyas: Lahir Untuk Berita

0
32

Cover buku ini sengaja menampilkan foto close up seorang Karni Ilyas, sehingga pembaca seketika mengerti jika buku ini sejatinya adalah biografi seorang Karni Ilyas. Karni Ilyas banyak dikenal di kalangan masyarakat sebagai seorang wartawan senior yang saat ini sering tampil di layar kaca mengisi acara Indonesia Lawyer Club di tvOne.

Perjalanan karirnya menjadi seorang wartawan selama 40 tahun tertuang dalam buku ini. Penulis buku ini adalah Fenty Effendy. Ia juga seorang jurnalis senior. Buku ini merupakan buku keenam yang dikerjakan oleh pendiri National Press Club of Indonesia (NPCI) ini.

Secara umum, biografi Karni Ilyas ditulis dengan bahasa sederhana, dengan begitu pembaca bisa mudah mengerti. Di sisi lain cerita seorang Karni Ilyas ditulis begitu dramatis dalam buku ini, sehingga pembaca mampu mengikuti irama emosional yang disajikan penulis. Ambil contoh saja ketika seorang Sukarni Ilyas, begitu nama aslinya, mengalami kemalangan beruntun dalam hitungan tiga tahun ketika usianya sangat belia.

Pertama, teror perang dan rusaknya rumah Amai Ibah (sebutan Sukarni untuk neneknya), kedua kebakaran rumah di Kampung Jao, dan ketiga yang paling pahit dari segala pahit adalah meninggalnya Sang Ibu untuk selama-lamanya. Pembaca akan secara otomatis menaruh simpati selama membaca “Bab 1: Asal Usul” yang menceritakan kehidupan kecil seorang Sukarni Ilyas.

Karni Ilyas mengawali karirnya menjadi seorang wartawan di Suara Karya pada tahun 1972, dan berakhir pada tahun 1978, lalu melanjutkan ‘petualangan’nya di Tempo. Saya sangat terkesan dengan cerita Karni Ilyas ketika ia menjadi reporter di Tempo sekaligus menjadi Pemimpin Redaksi FORUM Keadilan. Sense of law-nya ditulis begitu hidup dalam buku ini. Passion-nya dalam menjalankan tugasnya sebagai wartawan yang diceritakan juga mampu menggiring semangat pembaca untuk menjadi sepertinya. Salah satu chapter bukunya yang menjadi favorit saya adalah “Setiap Berita Adalah Usaha” (hal. 75).

Kolom yang Karni tulis untuk Majalah Tempo dan Catatan Hukum (Cakum) yang ia tulis di majalah FORUM Keadilan diselipkan di antara alur cerita, sehingga pembaca bisa mengetahui, tulisan seperti apa yang disusun oleh seorang Karni Ilyas hingga ia bisa dipercaya menjadi seorang pemimpin redaksi di FORUM dan seorang Redaktur Pelaksana Kompartemen Hukum dan Kriminal majalah Tempo. Karni llyas memang berbakat.  

Layouting buku ini sangat memperhatikan seni. Terbukti dari adanya foto-foto berwarna dokumentasi Karni Ilyas ketika muda hingga saat ini. Memudahkan pembaca berimajinasi bagaimana kehidupan Karni zaman dulu hingga sekarang. Seni tata letak lainnya, setiap terdapat kutipan yang inspiratif dari Karni selalu diletakkan di tengah-tengah cerita dengan font besar di-bold, dan memenuhi satu halaman full.

Tiada gading yang tak retak, begitu peribahasa bilang. Buku ini secara keseluruhan menceritakan tentang seorang Karni Ilyas dan kasus-kasus hukum yang ia beritakan. Pembaca yang mengidolakan Karni Ilyas membeli buku ini, namun ia tidak ‘melek’ hukum akan kesulitan mencerna kasus-kasus hukum yang diceritakan. Pembaca juga tidak bisa memberi penilaian siapa sebenarnya yang salah siapa yang benar. Apalagi, kasus-kasus hukum yang disajikan sudah terjadi sebelum abad 20.

Saya menyayangkan mengapa figur Karni Ilyas menguap seketika saat alur mulai berada pada cerita ia diberhentikan dari FORUM Keadilan hingga di akhir buku. Saya merasa cerita saat beliau bekerja di FORUM lebih greget. Ceritanya ketika di tvOne juga disampaikan hanya sepintas, tidak mendetail, padahal saya rasa Karni Ilyas bisa dikatakan terkenal saat ini lewat acara Indonesia Lawyer Club (ILC) di tvOne.  

Over all, cerita Karni Ilyas ini mengambil sudut pandang penulis terhadap Karni yang dicitrakan sebagai wartawan berbakat dan pekerja keras. Tidak ada sudut pandang yang menceritakan Karni pernah bermasalah. Padahal, kenyataannya, Karni Ilyas pernah ditegur oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) saat membawakan acara ILC atau persoalan lainnya.

Terlepas dari kekurangan buku ini, kenyataannya buku ini mampu mendobrak pasar. Buku ini sangat laris sejak diterbitkan. Hal ini kemungkinan dilatarbelakangi oleh Karni Ilyas yang begitu terkenal. Tidak salah beliau bercita-cita ingin jadi wartawan supaya terkenal. Kesan terakhir, buku ini mampu menghidupkan kembali semangat wartawan muda sekaligus menambah pengetahuan hukum bagi orang awam.

*Diambil dari: Elyvia Inayah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here