Kisah Karni Ilyas Kejar Berita Janda Cantik Sampai Jenewa

0
78

Bagi seorang reporter, sebuah berita harus memenuhi unsur cover both side. Sebuah berita harus menghadirkan dua nara sumber dari dua pihak yang sedang berselisih. Karni Ilyas pun mengejar nara sumber hingga ke Jenewa, Swiss.

Tahun 1992, Pengadilan Tinggi Singapura membuka kembali persidangan untuk menentukan siapa yang berhak atas 19 rekening milik almarhum Haji Achmad Thahir di Bank Sumitomo Singapura. Terjadi perebutan antara istrinya almarhum, Kartika Thahir, melawan Pertamina.

Thahir adalah kepala divisi prasarana pembangunan instalasi listrik tenaga uap (PLTU) dan prasarana pelabuhan untuk bongkar muat material pabrik baja Krakatau Steel. Dalam rekening yang menjadi permasalahan itu, terdapat uang USD 79 juta. Perkiraan awal berjumlah 23 juta dollar AS. Jumlah itu terus berbunga. Diduga uang tersebut adalah komisi yang diterima Thahir atas sejumlah proyek Pertamina.

Kartika Thahir tidak pernah datang ke persidangan. Bahkan petugas KBRI di Swiss, tempat janda cantik tersebut tinggal, juga tidak memiliki informasi di mana sekarang dia berada. Sosoknya misterius.

Karni Ilyas saat itu menduduki posisi Redaktur Pelaksana (Redpel) Kompartemen Hukum, Kriminal, di majalah Tempo, mengejar Kartika hingga ke Geneva, Swiss.

Setelah melakukan serangkaian lobi-lobi, utusan Kartika memberitahu jika ada kemungkinan wawancara, tapi waktu dan tempat belum ditentukan. Utusan itu juga berpesan, Karni harus datang sendiri.

“Yang tahu saya mau wawancara Kartika cuma Goenawan Mohamad yang Pemred, Yusril Djalinus, dan Margana, dia korlip saat itu. Di lobi bawah, saya ketemu Fikri Jufri, dia Wapemred. Eh, mau kemana kamu? Kalau ngaku ke Jenewa, pasti dia mau ikut. Sebagai Wapemred kan dia bisa mutusin sendiri dia mau kemana. Saya bilang saja, saya mau ke sidang Kartika.” tutur Karni Ilyas dalam buku “Karni Ilyas lahir Untuk Berita” karya Fenty Effendy.

Pengacara Kartika Thahir, Francis L Spagnoletti mengaku heran dengan jadwal wawancara ini. “Saya benar-benar tak habis pikir, You are lucky…,” ujar Spaggnoletti keheranan. Pengacara itu pantas heran. Tak ada yang pernah bisa mewawancarai janda cantik itu.

Dalam Surat Dari Redaksi, Tempo menuliskan, Karni memang beruntung. Inilah wawancara khusus pertama yang diberikan Kartika untuk wartawan, sekalipun cukup banyak yang mengejarnya. Dia selalu bersembunyi, sehingga terkesan misterius.

Hasil wawancara tersebut menjadi Laporan Utama majalah Tempo edisi 22 Februari 1992 dengan judul “Suami Saya Hanya Kambing Hitam”. Dalam wawancara sepanjang tiga halaman tersebut, Kartika menyangkal semua tuduhan yang dituduhkan kepadanya.

Oleh banyak orang, wawancara eksklusif Karni Ilyas dengan Kartika Ratna Tahrir dianggap sebagai pengejaran narasumber yang luar biasa.

“Itu sebenarnya wawancara yang gila, berdasarkan investigasi yang juga gila,” kata reporter majalah Tempo waktu itu, Ivan Haris Prikurnia. [ian]

*Merdeka.com. Reporter: Al Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here