Satu Berita Jadi Perkara

0
52

Sepenggal kisah ketika Karni Ilyas menjadi reporter Suara Karya (SK) :

Setelah Peristiwa Malari 14 Januari 1974, seluruh karyawan SK dikumpulkan oleh Ali Moertopo. Jenderal berbintang dua itu mengumumkan rencananya membersihkan SK dari “orang-orang Rahman Tolleng”. Tokoh yang senang memakai kacamata gelap ini merupakan ‘godfather’ walaupun namanya tidak ada di dalam struktur pengelola SK.

Mendengar pengumuman Ali, Karni sempat berpikir bakal tamatlah riwayatnya. Hubungannya dengan Rahman Tolleng sebenarnya sebatas penerimaan sebagai karyawan saja, namun pengalaman selama ini menunjukkan sebaris informasi bisa menjadi alasan Opsus bertindak atas nama Negara. Beruntung Karni tak terkena imbas apa-apa.

Pengaruh kelompok Ali Moertopo masih berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya. Satu ketika Karni mendapat bocoran tentang kasus future trading (perdagangan berjangka) yang melibatkan sejumlah orang berpengaruh, termasuk Monang Pasaribu yang terhitung lingkaran dekat sang godfather. Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat akan segera mengambil tindakan, demikian tulis Karni dalam laporan yang diserahkannya kepada atasannya.

“Redaktur saya tak mau ambil resiko. Dibawalah tulisan saya itu ke Assegaf. Dipanggillah saya ke ruangannya. ‘Ini betul Karni?’ Tanya dia. ‘Iya, Pak’ jawab saya. ‘Ya sudah, mau apa lagi’ kata Assegaf. Eh begitu berita itu naik, hebohlah Tanah Abang III. Kami waktu itu sudah pindah ke Jalan Bangka II no 2, Kebayoran Baru. Assegaf banting meja. Dia pikir saya tak akan melawan. Tapi karena dia tuding-tuding saya, bilang saya menikam dari belakang, saya membela diri dengan suara keras juga. Waduh, teriakan kami berdua menggelegar di lantai itu. Saya didukung para redaktur, Wapemred pun tahu karena dia ada di ruangan Assegaf waktu itu. Selamatlah saya.”

Djafar Assegaf mengakui memang pernah memarahi Karni karena situasi di SK pada saat itu memang demikian adanya. Begitupun, menurut Assegaf yang pernah menjabat pemimpin redaksi harian Media Indonesia dan kemudian menjadi Duta Besar untuk Vietnam, pertengkaran mereka hanyalah bumbu dalam pekerjaan sebagai wartawan.

“Karni itu reporter yang ingin ‘naik’ dan maju terus. Waktu dia mau kuliah di FH UI, dia datang ke saya, dan saya kasih izin. Lalu, dia datang lagi memberitahu kalau dia diterima bekerja di Tempo. Pergilah kau, kata saya, itu majalah yang bagus”.

*in memoriam Djafar Husein Assegaf (12 Desember 1932 – 12 Juni 2013)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here