Stigma Ibnu Sutowo Korupsi di Pertamina Masih Kuat

0
29

Yogyakarta – Pandangan miring atau negatif terhadap sosok Ibnu Sutowo, mantan Direktur Utama (dirut) Pertamina, masih kuat. Ibnu selama ini dituding sebagai pelaku korupsi di BUMN tersebut. Namun di mata keluarga dan koleganya, Ibnu Sutowo adalah sosok yang unik. Semasa hidupnya dia pernah menjadi dokter, anggota TNI hingga berpangkat bintang tiga dan menjadi Dirut Pertamina.

“Sampai dengan beliau turun jabatan dirut Pertamina tahun 1976 hingga wafat tahun 2001, dugaan atau tuduhan terhadap ayah saya itu melakukan korupsi masih sangat kuat,” kata Pontjo Sutowo, anak laki-laki tertua Ibnu Sutowo. Hal itu diungkapkan Pontjo dalam acara diskusi buku “Ibnu Sutowo: Saatnya Saya Bercerita!” di Pusat Antar Universitas (PAU) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Jl Teknika Utara Yogyakarta, Jumat (20/3/2009).

Pontjo mengatakan buku yang ditulis (alm) Ramadhan K.H. pada tahun 1996 yang diterbitkan National Press Club of Indonesia (NPCI) bukanlah buku putih terhadap ayahnya. Buku biorgrafi Ibnu Sutowo juga bukan buku untuk meramaikan politik menjelang pemilihan presiden 2009 ini.

“Saya hanya merasa berkewajiban membuat orang lain mengetahui sisi sebenarnya, mengenai siapa ayah saya. Saya sendiri dulu yang meminta kepada almarhun Pak Ramadhan K.H. untuk menulisnya,” ungkap dia.

Pontjo mengaku semasa Ibnu Sutowo masih hidup, ayahnya enggan untuk menuliskan kisah hidupnya sejak kecil hingga tua. Ayahnya tidak mau karena suasana batinnya yang merasa dipersalahkan. “Ayah enggan menceritakan dirinya, merasa tak patut. Buku ini bukan buku putih kasus tersebut sebagai pembelaan diri. Silakan masyarakat yang menilai sendiri,” katanya sekali lagi.

Menurut Pontjo, sosok ayahnya itu mempunyai pemikiran yang spesifik. Dia juga tidak mengikuti arus. Dia selalu melihat berbagai persoalan secara spesifik dengan logikanya sendiri.

“Keberanian mengambil sikap dan berdiplomasi itu tercermin saat ditugaskan KSAD Jenderal Nasution ke Sumatera saat pecah perang PRRI pada akhir tahun 1950-an. Peristiwa PRRI itu jauh lebih kompleks perangnya seluruh Sumatera dari pada kasus GAM Aceh,” pungkas Pontjo. (bgs/djo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here