Terhipnotis Membaca “Karni Ilyas Lahir Untuk Berita”

0
42

Fenty Effendy menulis kata pengantarnya dengan sangat tepat: “If there’s a book that you want to read, but it hasn’t been written yet, then you must write it”. Kata-kata ini memikat saya. Fenty mengutip ucapan wanita kulit hitam pertama AS yang menerima Nobel Kesusastraan tahun 1993, Toni Morrison. Jika ada sebuah buku yang ingin Anda baca, tetapi buku tersebut belum ada yang menulisnya, maka Anda harus menulis buku itu. Ajakan ini tegas dan jelas bagi siapa saja yang membaca buku. Tak terkecuali saya.

Senang sejalan bahagia akhirnya buku “KARNI ILYAS Lahir Untuk Berita” sampai juga di tangan saya. Penasaran beberapa waktu lalu kini terbayar. Memang saya hanya mendengar launching-nya pada suatu acara Indonesia Lawyers Club yang dipandu Pak Karni Ilyas sendiri. Dari segi judulnya saya langsung jatuh cinta. Sejak saat itu saya memendam rasa rindu yang mendalam – kapan saya bisa membaca tuntas buku itu? Maklum di Ende tidak ada toko buku sekelas Gramedia.

Baru saja seorang teman yang juga hobi rajin membaca pergi ke Bandung. Di sela-sela acaranya yang padat untuk mengikuti pelatihan dan workshop di Hotel Ibis Bandung, beliau menyempat waktu untuk mengunjungi toko buku Gramedia terdekat. Akhirnya berhasil, ia membeli buku itu. Dan kini buku itu berada di tangan saya dengan kesepakatan ‘pinjam’.

Sekali lagi, rasa rindu itu terbayar. Dan saya seperti langsung terhipnotis. Saya memandang sampulnya. Saya melirik pula penulisnya yang tidak asing dalam karya biografi. Lalu saya menatap judulnya dalam-dalam, “KARNI ILYAS Lahir Untuk Berita”. Di halaman judul paling atas dengan tinta kuning keemasan tertulis, ’40 Tahun Jadi Wartawan’. Saya kagum. Sebuah waktu yang bukan singkat dan mungkin tidak semudah mengedipkan alis mata untuk bertahan sebagai pemburu berita.

Secara pribadi, saya bukanlah fans berat pak Karni Ilyas. Bukan pula Karni Ilyas lover. Walau saya tahu ia seorang cerdas kalau saya membataskan diri pada Karni Ilyas sebagai seorang pemandu acara ILC di TVOne itu. Pengetahuannya luas. Tetapi sebagaimana seorang tokoh lain yang dianggap terpandang di bawah kolong langit ini, saya penasaran. Mengapa mereka hebat? Mengapa dia cerdas? Mengapa dia sukses? Naluri mengetahui secara lebih mendalam tentang seseorang membuncah dalam batok kepala saya. Begitu pula dengan Pak Karni Ilyas.

Sampai pada detik ini, saya baru sampai di ‘Diselamatkan Gadai Sepeda’. Lalu saya membayangkan ketika pak Karni Ilyas berbicara dengar suara yang serak-serak parau. Tertangkap jelas perjuangan dan kerja kerasnya kala itu. Inspiratif memang.

Di akhir sebelum saya melepas sedikit lelah, saya teringat dengan nasihat seorang teman kos dulu ketika ia tahu saya terpaksa tunda kuliah, ‘bumi tak pernah menangis ketika kita terantuk an jatuh, namun ia akan meneteskan air mata ketika kita tak mau bangun lagi’.***

Dimuat di FLORESide.wordpress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here